Thursday, April 5, 2018

A Whole New World: Married, Pregnant, Being a Mom

(( Posting ini menjadi draft selama dua tahun, sebelum akhirnya terbit hari ini, 5 April 2018. Itupun dengan tulisan yang belum paripurna ))

Menikah merupakan awal kehidupan baru yang berbeda. Setelah menikah, 15 Mei 2015, kami menikmati awal kehidupan berumah tangga berdua. Buatku, banyak adaptasi yang membuat emosi ups and downs, mulai dari adaptasi karakter, kebiasaan, pengambilan keputusan, penentuan pilihan, finansial, dan masih banyak hal lain. Tinggal sendiri bersama suami memberikan ruang lebih luas untuk mendalami masing-masing karakter, memandirikan setiap pilihan hidup, menikmati manis getir pengalaman yang mendewasakan kami berdua. Sebagai anak muda, tentu ego dan karakter kuat tidak bisa sepenuhnya dihilangkan, namun mengkompromikannya untuk mengusahakan solusi terbaik agar life goes on, and life gets better selalu dikedepankan.

Ramadhan dan Idul Fitri adalah dua momen spesial yang kami lewati dengan status berbeda. Pertanyaan klise yang muncul kepada pasangan pengantin baru, "Apakah sudah 'isi'?",  berhasil kami jawab ala kadarnya, "Aamiin, mohon doanya saja!". Kami menganggap itu sebagai doa karena memang pada saat itu belum ada tanda-tanda kehamilan. Sejak awal menikah, aku dan suami tidak berniat menunda. Kami pasrah dan akan bersyukur jika memang diberikan amanah oleh Allah SWT.

Kecurigaanku mulai muncul pada akhir Juli - saat aku terlambat datang bulan hingga hampir dua minggu, padahal biasanya siklus menstruasiku teratur. Saat itu, 1 Agustus 2015, pada saat suamiku sedang tugas di Jakarta aku membeli testpack di apotek. Aku sengaja membeli yang harganya murah dan agak mahal. Sesampainya di rumah aku langsung mencobanya. Muncul dua garis merah nyata yang membuatku 'speechless'  dan bersujud syukur. Namun, saat itu aku masih belum terlalu yakin karena  belum mencobanya ketika bangun tidur, yang katanya merupakan waktu yang paling valid untuk mencoba testpack, sebab kadar hCG dalam urine sedang tinggi.

Sejak dua garis merah yang muncul di test pack pada awal Agusus, baru pada 11 Agustus 2015 kami memutuskan untuk periksa ke Jogja International Hospital. Saat itu dokter kandungan yang available adalah dr. M. Nurhadi Rahman, Sp.OG. Pada saat USG pertama, hanya terlihat kantong rahim kosong yang belum ada isinya. Saat itu, berdasarkan  hasil USG, usia kehamilanku sekitar 5 minggu. Dokter Adi berusaha menenangkan, memberikan obat penguat janin, dan meminta kontrol sebulan lagi sembari memberikan no. HP-nya untuk konsultasi lebih lanjut.

Sedari awal kehamilan, aku ingin mengabadikan perjalanan kehamilan yang kelak akan menjadi catatan sejarah, bagiku dan keluarga kami. Mewujudkan niat ke dalam aksi memang tidak semudah mencetuskan niat dan rencana. Sembilan bulan berlalu dengan sangat cepat. dan satu-satunya jurnal kehamilan yang berhasil kutulis adalah memoar 5 November 2015.

[Kamis, 5 November 2015] Kamu telah bergerak-gerak di dalam perutku, Nak. Ada gerakan halus seperti aliran air dan mata yang kedutan. Rasanya sangat ajaib dan luar biasa. Ada makhluk kecil berukuran 14 cm yang gemar menggoda Bunda di waktu-waktu tertentu. Frekuensinya mungkin belum sering, hanya saat-saat tertentu. Gerakannya pun masih terasa sangat halus.
Saat menuliskan ini Bunda tersenyum-senyum sendiri karena tiba-tiba kamu menendang halus dan mengejutkan. Usiamu hari ini sekitar 18 minggu. Cepat sekali berlalu. Bunda sangat menikmati kehamilan ini. Terima kasih ya telah bekerja sama dengan sangat baik. Kamu sangat pengertian dan tidak merepotkan.


Perjalanan Kehamilan

Tiga puluh sembilan minggu plus dua hari masa kehamilanku berhasil kulewati dengan lancar dan sukses. Sejak trimester pertama sampai dengan trimester ketiga, alhamdulillah aku tidak mengalami morning sickness ataupun perubahan fisik yang berarti. Bisa dibiang hamil badak. Aktivitas pun berjalan seperti biasanya. Overall, aku naik sekitar 12 kg dan tidak mengalami pembengkakan badan. Sejak trimester pertama dan kedua, bahkan di setiap weekend aku dan suami seringkali plesir ke tempat wisata di Jogja yang belum pernah kami kunjungi. Perjalanan ekstrem yang pernah kami lalui ketika kami menjelajah Pulau Timang. Dibilang ekstrem karena memang perjalanan menuju Pulau Timang tidaklah mudah,


No comments: