Saturday, January 7, 2012

Mengurai Luka Negeri

Ini adalah sebuah refleksi tentang 'tragedi' di tanah airku. Ini juga tentang sebuah dialektika pribadi, dipantik oleh pertanyaan: 'mau dibawa ke mana perjalanan bangsaku, Indonesia?' Post ini terlahir karena rasa prihatin penulis melihat fenomena di negeri akhir-akhir ini. Satu demi satu bulu di sayap Garuda-ku lepas. Kepakan sayapnya semakin lemah, terseok-seok menahan gempuran badai dan angin yang tak henti-hentinya menerjang. Garudaku tetap mengudara dengan sayap-sayap patahnya, dengan janji besar masa lampau yang menjadi nadi kekuatannya "Bhineka Tunggal Ika".

Pembakaran Masjid Syi'ah di Sampang, Madura (Sumber : detikSurabaya)



Indonesia. Sejak Sekolah Dasar, kita belajar bahwa negara kita adalah negara yang berbhineka, dan kita sepatutnya bangga mengenai hal itu. Sayangnya, rasa bangga itu sering ternoda oleh berbagai peristiwa yang menyakitkan. Mungkin bukan dilakukan oleh 'kita'. Namun, beberapa oknum pelakunya juga merupakan bagian dari kita, saudara kita. Sadarkah mereka? Negara kita kaya akan budaya, suku, agama, dan bahasa. Kita diajarkan untuk merayakan perbedaan dengan saling menghormati dan bertoleransi. Nilai-nilai semacam itu telah luntur, dan rasa kebanggaan kita nampaknya semu, bahkan telah pudar. Kita hanya memaknainya ketika pelajaran pendidikan kewarganegaraan di sekolah. Namun bagaimanakah dalam keseharian sehari-hari?

Satu. Indonesia satu di bawah NKRI yang merupakan harga mati. Begitulah kilah sejarah. Setidaknya nyawa pahlawan-pahlawan kita tidak sia-sia demi mempersatukan Indonesia setelah kemerdekaan berhasil diraih. Indonesia tetap satu walaupun elemen-elemenya berbeda. Layaknya suatu sistem, perbedaan-perbedaan akan bekerja sesuai fungsinya masing-masing dan semakin menguatkan jika mempunyai satu visi-misi yang utuh dan sama. Berbicara mengenai ke-'satu'-an, dalam Islam pun kita diajarkan bahwa belum sempurna iman seseorang jika belum mampu mencintai saudaranya layaknya mencintai dirinya sendiri, dan belum sempurna iman seseorang jika belum mampu merasakan sakit yang dirasakan saudaranya. (*Subhanallah). Jika demikian, kita mungkin bisa mengukur seberapa besar kadar keimanan kita)

Nyawa. Saat ini nyawa terasa murah harganya. Puluhan, ratusan, bahkan ribuan korban berjatuhan. Mereka menjadi korban akibat perang kepentingan. Mereka menjadi korban dari egoisme kefanatikan. Mereka yang meninggal, meninggalkan kemirisan bahwa kesenjangan dan kecemburuan sosial sangat tinggi di negeri ini. Mereka yang terkapar karena memperjuangkan sesuap harapan demi keadilan dan kesejahteraan. Oh saudaraku, hati ini sakit ketika ada yang tertawa di balik kesakitan saudara-saudara kita yang lain. Ada yang meraup keuntungan di balik penderitaan saudara-saudara ini. Oh, solidaritas, persaudaraan, kesetiakawanan sosial , dimanakah engkau bersemayam? Nilai-nilai ini seringkali hanya muncul secara reaksioner dan emosional. Gerakan massive yang bisa 'cukup' diacungi jempol, namun perlu dikaji kembali, dihayati, diniatkan dengan baik, kemudian disebarluaskan.

Media. Media diberi kebebasan lebih di negeri ini. Memberikan efek seperti 'dua sisi mata pisau', bisa berguna dan bisa menyayat. Media akhir-akhir ini dipenuhi oleh berita-berita lugas yang sebagian besar menghadirkan realitas yang pahit mengenai negeri ini. Di satu sisi, hal tersebut berhasil membukakann mata nurani kita bahwa realitas itu nyata dan hadir di sekitar kita. Di sisi yang lain, sisi buruk itu akan mempengaruhi psikologi kita, terutama jika kita terus-terusan berfokus pada sisi negatif. Padahal masih banyak upaya perbaikan negara ini yang patut kita apresiasi. Seperti kata Anis Baswedan, optimis bukan berarti tidak kritis. Sebagai pemuda kita harus optimis dalam menyikapi berbagai krisis bangsa ini, tanpa menafikan kekritisan kita terhadap isu-isu di negeri ini.


Politik. Sangat gerah jika politik selalu mendapat 'embel-embel' negatif dan disalahkan. Tetapi penulis sangat mengerti kenapa terjadi. Politisasi adalah perkara yang lain. Politik dan politisasi berbeda. Politik (sejatinya) adalah mengenai bagaimana suatu kekuasaan didistrisbusikan, bagaimana kebijakan publik dibuat, dan tujuan utama (sebenarnya) adalah untuk mencapai kepentingan umum, yang (seharusnya) sifatnya mengayomi. Namun yang terjadi dan yang salah dalam praktiknya adalah penyalahgunaaan politik dan penyelewengan kekuasaan. Politisasi terjadi ketika politik dijadikan sebagai suatu alat untuk meraup keuntungan demi kepentingan diri atau kelompok tertentu, sehingga merugikan sebagian besar pihak, terutama kaum marginal.

Lalu, mau dibawa ke mana perjalanan negeri ini? Memang merupakan suatu kewajiban pemerintah untuk membawa haluan perjalanan bangsa ini. Namun tidak lantas semuanya diserahkan kepada pemerintah. Memang yah pemerintah telah gagal memberikan hak yang seharusnya didapatkan oleh warga negaranya, namun kita tidak boleh hanya terus-terusan menuntut. As a wise word says that dont ask what your country gives to you, but ask what you give to your country.  Kembali ke duduk permasalahan awal lahirnya posting ini. Yang ingin penulis sampaikan adalah mari kita memulai semua dari diri sendiri, dan dari lingkungan di sekitar kita. Mari kita belajar saling menyayangi, menghormati dan menghargai, terutama kepada mereka yang berbeda identitas dan pendapat dengan kita. Itu tidak mudah, tetapi kita mempunyai visi yang sama bahwa perdamaian dan kedamaian adalah dambaan kita semua.


PS:

Al Fatihah kepada semua korban:
Penembakan warga sipil di Aceh, pembakaran masjid dan ponpes Syiah di Sampang, Madura, Jawa Timur, kasus kemanusiaan di Bima, NTB, tragedi Mesuji di Lampung dan Sumatera Selatan,  kerusuhan di Papua, dan masih banyak krisis lain di berbagai belahan Indonesia.

No comments: