Friday, December 23, 2011

Better to Zip it

gambar dari sini
Perbincangan dengan orang dewasa yang bersahaja dan bijaksana lebih menyenangkan dan menghangatkan hati dibandingkan dengan pergumulan dengan teman-teman sebaya yang gemar berperasangka buruk dan  mencari-cari cacat orang lain. 
 Saya merasa lebih nyaman berbincang dan mendengarkan orang tua yang banyak memberikan nasehat dan peringatan tentang kehidupan, dibandingkan obrolan ngalor ngidul dengan teman-teman yang hanya asyik mengorek-ngorek kesalahan dan aib teman lain. Saya tidak tahan tahan, kuping panas, dan hati gatal rasanya. Please dude, be positive and do appreciate peeps!

Tuesday, December 20, 2011

Kakekku di Kampung

Sosok Kakek Tangguh
Kakek adalah seorang pejuang. Di usianya yang hampir 90 tahun beliau tetap seorang pejuang tangguh. Saat ini beliau berjuang melawan ‘sendiri’. Sendiri, bukan berarti berteman kesedihan, tetapi ditemani semangat membara untuk melihat anak cucunya bahagia. Kakek sangat senang jika anak cucunya berkunjung dan menemani. Saat ini memang beliau tinggal seorang diri, di rumah tua di desa yang berjarak sekitar setengah jam dari rumah. Ajakan putra-putranya untuk tinggal bersama selalu ditolak dengan alasan lebih nyaman tinggal di rumah sendiri karena lebih kenal dan dikenal baik oleh tetangga. Serta, merasa lebih mempunyai ruang gerak untuk beraktivitas di rumah dan di lingkungannya. Sebagai  cucu perempuan pertama -yang sangat dinantikan kelahiranny, aku sangat disayang oleh kakek, dan terutama oleh almarhumah nenek. Nenek sangat mendamba anak perempuan karena seluruh anaknya berjenis kelamin laki-laki.

Berpose bersama kakek, lebaran 1432 H

Ketika liburan, kami selalu menyempatkan mengunjungi kakek. Lebaran tahun ini, adik dan aku sengaja menginap di rumah kakek dan selama tiga hari. Pengalaman yang luar biasa bagiku dan adik tinggal di rumah besar nan tua yang bisa dibilang jauh dari peradaban kota. Selama menginap, kami mencoba menghayati bagaimana hidup sebagai seorang kakek. 


Di usia senjanya kakek masih sehat dan lincah. Gaya bicaranya ceplas-ceplos dan straighforwad. Bahkan, kami seringkala tertawa dan terpingkal-pingkal mendengar reaksi dan komentar spontan kakek yang sangat khas dengan gaya ala 'gitu aja kok repot' dan merasa benar sendiri. Komentar kakek kadang tak terduga dan 'mak jleb'. Kakek juga hobi bercerita, terutama ketika kami pancing dengan rentetan pertanyaaan. Ingatannya masih sangat tajam. Daya dan alur pikirnya sangat logis dan runtut. Beliau seringkali bercerita mengenai perjuangannya semasa penjajahan Belanda, cerita haji dengan kapal laut, serta masa kecil Bapak, dan anak-anaknya yang lain. Merasa tidak mau ketinggalan berita terkini, kakek senang melihat perkembangan dunia dalam liputan dan berita di stasiun televisi. Rasa ingin tahunya masih sangat tinggi. 


Romantisme Pedesaan


Gambar di samping adalah pemandangan jalan pedesaan, tepat di sebelah rumah kakek . Masa kecil di sana merupakan memori indah yang tak lekang waktu. Suasana khas pedesaan syang saat ini telah terhapus roda pembangunan dan modernisasi. Oleh karenanya, aku bersyukur pernah melewati masa kecil di sana. Menikmati malam syahdu berteman lampu 'teplok' ketika lstrik belum masuk desa. Mandi bersama ibu-ibu dan gadis-gadis desa di mbelik (mata air) sembari melihat mereka bercengkrama sambil mencuci baju. Aku kecil yang dengan riang berlari-lari dari mbelik dan berhenti sejenak di depan rumah kakek untuk melakukan 'dede', menikmati hangatnya sinar matahari yang  menyentuh dan mengeringkan kulit badan yang basah. Teringat pula bagaimana aku dan paman-pamanku berburu ikan cethul di kolam sebelah sungai dimana para bapak mandi dan dikelilingi sawah yang hijau membentang.


Kondisi dan tradisi di pedesaan saat ini telah berubah. Listrik sudah masuk desa dan hampir setiap rumah sudah mempunyai kamar mandi sendiri. Pengalaman tinggal di pedesaan sangat berkesan. Keindahan dan kekayaan tak ternilai seringkali kita temukan dalam anggunnya kesederhanaan.  

Lalu, bagaimana?

memandang halaman depan lewat jendela rumah
Dalam suatu segmen pamitan dengan kakek, masih dalam liburan di tahun ini, kami menatap beliau lekat-lekat sambil mengucapkan salam dari jendela mobil seraya tersenyum dan melambaikan tangan. Gerimis di malam hari menjadi latar yang menambah dinginnya tatapan kami.  Perasaan tidak tega bercampur haru karena harus meninggalkan kakek, tetapi bagaimanapun kami harus pulang karena aku harus balik ke Jogja dan orang tua juga harus bekerja. Walaupun kakek merupakan pribadi yang tangguh, tidak rewel, dan sangat independen, tapi kami bisa membaca bahwa jauh di lubuk hati, beliau pasti merasa sepi. Sepi lebih terasa karena seharian telah ditemani riang dan canda tawa anak-cucunya. 


Kakek harus kembali berteman sendiri, serta berteman setia sajadah dan tasbih di kamar. Bagi beliau mungkin sendiri merupakan hal yang biasa. Tapi kami kadang merasa sedih karena di usianya yang senja selayaknya kakek selalu ditemani dan dikelilingi orang-orang terkasihnya.Pak puh sebenarnya tinggal beberapa meter dari rumah kakek, tapi kondisi kesehatannya perlu diperhatikan, sehngga justru yang kakek yang merasa lebih khawatir. Oleh karena itu, Bapak dan paman selalu berkunjung di tiap akhir pekan sebagai wujud bakti dan cinta kepada kakek. Bagaimanapun juga kehadiran merupakan kado terindah yang bisa memberi kebahagiaan di sisa umurnya.


Kakek membuatku belajar banyak hal. Di raut mukanya yang menua, aku melihat bahwa sejak muda beliau merupakan sosok yang disiplin dan tegas. Kakek masih bisa melakukan apapun sendiri, tanpa merepotkan orang lain. Bergaul dan melihat orang-orang yang beranjak senja mengingatkanku bahwa suatu saat nanti aku akan tua. Orang tuaku juga akan bergerak menua. Lalu, bagaimana? Akan berlaku seperti apakah kita nanti? Menulis tentang ini, ada sebuncah haru yang ingin tercurahkan terutama ketika terekam kembali jasa dan pengorbanan orang tua. Ada sebuah quote menyentuh yang mencoba mengingatkan kita untuk tidak lupa bahwa ketika kita tumbuh dewasa, orang tua kita juga tumbuh menua. 


Mengingat sepenggal cerita tentang kakek membuatku menanyakan kembali tentang:
- Di manakah orang tua kita dalam rancangan masa depan kita?
- Sudah cukup berbaktikah kita? Bagaimana sikap kita selama ini, cukup membuat mereka bahagiakah? Ataukah malah lebih banyak manyakiti
- Cukup egoiskah kita dengan kesuksesan yang kita impikan? Egoiskah kita dengan keputusan hidup kita? Coba bandingkan, egoiskah mereka dengan pilihan hidup mereka?
- Sudahkah kita rutin mendoakan mereka? Bayangkan betapa repotnya mereka membesarkan kita sampai sedewasa ini.  

Mari kita mengumpulkan amalan soleh yang tidak akan putus-putus dan mendoakan agar seluruh orang tua di muka bumi ini mendapatkan kasih sayang dari anak cucu mereka. Amiien.

Sunday, December 11, 2011

Bless us with Righteous spouses ♥


"Our Lord, grant us from among our spouses and offspring comfort to our eyes and make us an example for the righteous."

(Du'aa from Surah Al Furqan, ayah 74) 


“Allaah has already written the names of your spouses for you. What you need to work on is your relationship with Allaah. He will send her/him to you when you’re ready. It is only a matter of time.”

True love is from the one who helps you attain Jannah (together); not the one who holds your hand, smiling at you as you walk towards Hell. 

All picture ans content above were inspired and copied from here.

Saturday, December 10, 2011

ketika setelah mengaduh

pejam mata..
temaram lampu membawa syahdu..
malam, mata memata-mata jangan diraba
peluh, penuh mengeluh mengelu-elukan hati
hati, mendekat hati-hati memeluk hangat rapat..

tak ada sadar..
naluri tak banyak bicara,
diam, patuh pada firasat.
menderu mengecam pada yang laknat
menyayat akal dan asal muasal

beradu, antara aman dan iman
membisik jernih dan mendesah lirih.
menepi, merapat, antara aman dan iman
tipis bagai ari, menari-nari dalam nikmat sesat

sesaat, ada mata lain menari
mata hati dan nurani kemana engkau pergi?
dimana Engkau yang menjaga hati.
semua tak bertepi, hanya bersandar pada yang fana.
semua akan sia-sia tanpa doa.

(november 2011)
=Kf=

Simple Life for Happiness

You wouldn't wonder if I say that the happiest place to live would be one of Scandinavian countries. You could explain easily the reason why those countries were entitled that why. Most of us would justify that the economic welfare would increase life satisfaction and generate happiness. That is very logical reason. But if I said that Tibetan and Bhutan people are among the most happiest people on earth. "Wow. How come?" That must be your first reaction.  On the contrary, I amazed by the fact that on the developed country like Japan, suicide cases occurs very often. Even nowadays the country that spread 'K-Pop fever' worldwide, South Korea record more suicide cases on these past years as economic developed. If we tried to case-analyzing those two countries, we found that there isn't single factor to determine that social problems. But if I may conclude one thing, it indicates that Korean people isn't much happier compared to those Tibetan. So it hampered the justification that happiness is linear with economic development.


On this post, I wont talk deeply about the relations between welfare or prosperity with the quality of life or happiness in those countries. I will contemplate more on  my daily life in the sophisticated era. Firstly, I'd like to recall the old memories. Do you remember when we were young, we used to play in the ground; played 'hide and seek' and many traditional games. We really had fun, be happy and be cheerful. Compared to the children on this era, they experienced such a different thing. Now, they prefer to play play-station, game-online, or own various gadget. Maybe it's a worse comparison, but I just wanted to underline that on the past although we lived a simple world but we felt a sincere happiness.

Time machine explained and showed us that era indeed changes, technology develops, and people should also 'develops' to adjust perfectly with the changes. For me, technology is the best invention in people history and helps us work efficiently and conveniently. But of course it affect on people's life. Beside technology, the development also change people life-style. Globalization is the main factor that powerfully influence the life-style's changing. Not forget to mention consumerism, materialism, and hedonism.

What  I wanna question here is I wonder why people nowadays forget how to feel enough and how to live in a simple life. And the factor I mentioned above could be one of the reasons. People now want to have more, achieve more, and own more. Couple hours before writing I came to the conclusion that we urgently need to be back to nature. We need to learn how to value simple life, simple mindset, and simple ambition. By simply learning that, maybe we can find our inner happiness and gratefulness. 

Our daily pressure mostly comes from external environment. But our mindset and feeling shaping it. Why we feel sad, disappoint, and rarely happy? Sometimes it was driven by our overwhelming desire and ambition. Why want to have and achieve more? Because the media, social pressure, consensus told us to do so. And because we know that others can do. So, those factors trigger us to haven't felt enough yet. As the matter effect, we forget how to live a simple life. How to accept and thank for a simple thing.

Let's learn from our Tibetan and Bhutan friends. Although they live in a very simple life, they value life highly. They felt grateful for what they have. They live their life happily. And, let's be the kids. They are very pure, simple, and happy. For them, the world is only a play-ground.

Let's be simple!
Let's be happy!
Let's dreaming high, but don't forget your foot still stand on the ground!





PS : Tibet is really enchanting yet peacefully beautiful. Take me there someday *,*

pic 1 from here.
pic 2 from here

Thursday, December 8, 2011

Wednesday, December 7, 2011

Indonesia Malaysia Youth Exchange Program (IMYEP) 2011

Bulan Juni s.d. Juli tahun ini saya mendapat kesempatan untuk mengikuti Program Pertukaran Pemuda Antar Negara yang diselenggararakan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga. Berikut ini adalah artikel yang saya tulis menceritakan pengalaman saya mengkuti Indonesia-Malaysia Youth Exchange Program (IMYEP) 2011.

Bisa disimak dan dibaca di sini.

Tuesday, December 6, 2011

Elegi Kekecewaan


Di antara salah satu kondisi yang tidak mengenakkan adalah kekecewaan. Kecewa adalah titik temu antara pengharapan atau angan-angan, yang tidak kongruen dengan kenyataan.  Hampir semua orang pernah merasa kecewa terhadap aspek apa pun dalam kehidupan ini. Bahkan, sadar atau tidak pasti setiap orang pernah mengecewakan orang lain. Minggu lalu, ada beberapa orang yang mengalami perasaan itu. Salah seorang teman juga bercerita bahwa dia sangat kecewa  dengan kondisi (oknum x) di institusi  y, sehingga memutuskan untuk ‘move on’ dan memulai meniti harapan-harapan baru di jalan yang lain. Ternyata, setelah  saya flash back, banyak sekali pihak yang telah dikecewakan oleh faktor dan oknum yang sama. Mungkin saya juga bagian dari mereka. 

Kecewa yang mengendap terlalu lama tidak baik untuk kesehatan dan juga kecantikan. Hehe. Oleh karena itu, saya mencoba mengurai pengalaman merasai kecewa.  Ada asap, pasti ada api. Kecewa biasanya timbul dari kondisi atau hubungan yang tidak sehat. Karena tidak mungkin suatu relasi yang baik dan sehat akan menmbulkan perasaan kecewa dari salah satu pihak-pihak terkait. Kondisi atau relasi yang tidak sehat bisa juga diartikan sebagai ketidakadilan, kurangnya komunikasi, kekurangbersyukuran, kurang sinergis, dan lain-lain. Kecewa yang paling tragis dan tidak mengenakkan adalah ketika tidak mampu meluapkan atau mengungapkan rasa tersebut kepada pihak yang mengecewakan. Saya akan mengambil contoh, misalnya saya sangat  kecewa terhadap  sikap pemimpin yang  tidak adil, egois, pragmatis,  dan ‘politis’. Tetapi saya tidak bisa berbuat apa-apa, karena perbedaan hierarki kekuasaan dan karena pemimpin memiliki kekuasaan relatif yang lebih benar. 

Maka, bersyukurlah ketika kita masih bisa mengutarakan rasa kecewa  dengan jujur kepada pihak yang telah mengecewakan. Setidaknya kita telah jujur pada diri sendiri dan orang lain serta berusaha mengubah keadaan agar kita merasa lebih ‘plonk’. Perubahan keadaan, terutama hubungan antara beberapa pihak yang terkait, bisa mengarah ke dua kemungkinan, yatu lebih buruk atau lebih baik. Semua tergantung bagaimana cara menyikapi dan mengomunikasikan persoalan tersebut.

Perasaan kecewa sungguh tidak mengenakkan, baik bagi pihak yang membuat kecewa atau pihak yang mengecewakan.  Berikut ini adalah beberapa hal yang bisa dicoba untuk mengeliminasi sakit atau tidak enaknya rasa kecewa:
1.       Tidak memendam rasa kecewa yang berlarut-larut.
2.       Menyalahkan dan mendendam adalah perbuatan yang sangat sia-sia dan tidak berguna. Lebih produktif jika kita introspeksi.
3.       Meminta maaf dan memberi maaf akan lebih melegakan, walaupun sulit.
4.       Lebih mendekatkan diri kepada Sang Pemberi Rasa. Memohon agar selalu didekatkan dan dilindungi sehingga kita bisa ikhlas dan berpikir bahwa kecewa adalah perasaan yang sementara
5.       Mendengarkan musik yang mendamaikan dan menyemangati. Jangan yang sedih2.
Misalnya : lagu-lagu religi, tentang kematian, kebesaran Tuhan, lagu tentang mimpi, semangat, kegemberiaan dan keceriaaan, serta berbuat baik kepada sesama.
6.       Membaca Al-Qur’an dan/atau buku-buku  yang menginspirasi.
7.       Keluar ke jalan. Memperhatikan di sekitar secara lebih dekat. Memandangi  erat-erat mereka yang masih kekurangan. Pasti hati kecilmu lupa dengan perasaan kecewa, tetapi lebih banyak bersyukur dan berfkir sia-sia kecewa karena hal yang masih sepele, tetapi akan bertekad menjadi orang yang lebih bermanfaat bagi sesame.
8.       Menyambung silaturahmi dengan saudara atau teman lama. Mempererat silaturahmi dengan orang-orang yang mendukungmu dan yang bisa menghiburmu.
9.       Gunakan momentum untuk meningkatkan kualitas diri.

Salam,
Kiki Fauzia

Gambar dari sini