Friday, December 23, 2011

Better to Zip it

gambar dari sini
Perbincangan dengan orang dewasa yang bersahaja dan bijaksana lebih menyenangkan dan menghangatkan hati dibandingkan dengan pergumulan dengan teman-teman sebaya yang gemar berperasangka buruk dan  mencari-cari cacat orang lain. 
 Saya merasa lebih nyaman berbincang dan mendengarkan orang tua yang banyak memberikan nasehat dan peringatan tentang kehidupan, dibandingkan obrolan ngalor ngidul dengan teman-teman yang hanya asyik mengorek-ngorek kesalahan dan aib teman lain. Saya tidak tahan tahan, kuping panas, dan hati gatal rasanya. Please dude, be positive and do appreciate peeps!

Tuesday, December 20, 2011

Kakekku di Kampung

Sosok Kakek Tangguh
Kakek adalah seorang pejuang. Di usianya yang hampir 90 tahun beliau tetap seorang pejuang tangguh. Saat ini beliau berjuang melawan ‘sendiri’. Sendiri, bukan berarti berteman kesedihan, tetapi ditemani semangat membara untuk melihat anak cucunya bahagia. Kakek sangat senang jika anak cucunya berkunjung dan menemani. Saat ini memang beliau tinggal seorang diri, di rumah tua di desa yang berjarak sekitar setengah jam dari rumah. Ajakan putra-putranya untuk tinggal bersama selalu ditolak dengan alasan lebih nyaman tinggal di rumah sendiri karena lebih kenal dan dikenal baik oleh tetangga. Serta, merasa lebih mempunyai ruang gerak untuk beraktivitas di rumah dan di lingkungannya. Sebagai  cucu perempuan pertama -yang sangat dinantikan kelahiranny, aku sangat disayang oleh kakek, dan terutama oleh almarhumah nenek. Nenek sangat mendamba anak perempuan karena seluruh anaknya berjenis kelamin laki-laki.

Berpose bersama kakek, lebaran 1432 H

Ketika liburan, kami selalu menyempatkan mengunjungi kakek. Lebaran tahun ini, adik dan aku sengaja menginap di rumah kakek dan selama tiga hari. Pengalaman yang luar biasa bagiku dan adik tinggal di rumah besar nan tua yang bisa dibilang jauh dari peradaban kota. Selama menginap, kami mencoba menghayati bagaimana hidup sebagai seorang kakek. 


Di usia senjanya kakek masih sehat dan lincah. Gaya bicaranya ceplas-ceplos dan straighforwad. Bahkan, kami seringkala tertawa dan terpingkal-pingkal mendengar reaksi dan komentar spontan kakek yang sangat khas dengan gaya ala 'gitu aja kok repot' dan merasa benar sendiri. Komentar kakek kadang tak terduga dan 'mak jleb'. Kakek juga hobi bercerita, terutama ketika kami pancing dengan rentetan pertanyaaan. Ingatannya masih sangat tajam. Daya dan alur pikirnya sangat logis dan runtut. Beliau seringkali bercerita mengenai perjuangannya semasa penjajahan Belanda, cerita haji dengan kapal laut, serta masa kecil Bapak, dan anak-anaknya yang lain. Merasa tidak mau ketinggalan berita terkini, kakek senang melihat perkembangan dunia dalam liputan dan berita di stasiun televisi. Rasa ingin tahunya masih sangat tinggi. 


Romantisme Pedesaan


Gambar di samping adalah pemandangan jalan pedesaan, tepat di sebelah rumah kakek . Masa kecil di sana merupakan memori indah yang tak lekang waktu. Suasana khas pedesaan syang saat ini telah terhapus roda pembangunan dan modernisasi. Oleh karenanya, aku bersyukur pernah melewati masa kecil di sana. Menikmati malam syahdu berteman lampu 'teplok' ketika lstrik belum masuk desa. Mandi bersama ibu-ibu dan gadis-gadis desa di mbelik (mata air) sembari melihat mereka bercengkrama sambil mencuci baju. Aku kecil yang dengan riang berlari-lari dari mbelik dan berhenti sejenak di depan rumah kakek untuk melakukan 'dede', menikmati hangatnya sinar matahari yang  menyentuh dan mengeringkan kulit badan yang basah. Teringat pula bagaimana aku dan paman-pamanku berburu ikan cethul di kolam sebelah sungai dimana para bapak mandi dan dikelilingi sawah yang hijau membentang.


Kondisi dan tradisi di pedesaan saat ini telah berubah. Listrik sudah masuk desa dan hampir setiap rumah sudah mempunyai kamar mandi sendiri. Pengalaman tinggal di pedesaan sangat berkesan. Keindahan dan kekayaan tak ternilai seringkali kita temukan dalam anggunnya kesederhanaan.  

Lalu, bagaimana?

memandang halaman depan lewat jendela rumah
Dalam suatu segmen pamitan dengan kakek, masih dalam liburan di tahun ini, kami menatap beliau lekat-lekat sambil mengucapkan salam dari jendela mobil seraya tersenyum dan melambaikan tangan. Gerimis di malam hari menjadi latar yang menambah dinginnya tatapan kami.  Perasaan tidak tega bercampur haru karena harus meninggalkan kakek, tetapi bagaimanapun kami harus pulang karena aku harus balik ke Jogja dan orang tua juga harus bekerja. Walaupun kakek merupakan pribadi yang tangguh, tidak rewel, dan sangat independen, tapi kami bisa membaca bahwa jauh di lubuk hati, beliau pasti merasa sepi. Sepi lebih terasa karena seharian telah ditemani riang dan canda tawa anak-cucunya. 


Kakek harus kembali berteman sendiri, serta berteman setia sajadah dan tasbih di kamar. Bagi beliau mungkin sendiri merupakan hal yang biasa. Tapi kami kadang merasa sedih karena di usianya yang senja selayaknya kakek selalu ditemani dan dikelilingi orang-orang terkasihnya.Pak puh sebenarnya tinggal beberapa meter dari rumah kakek, tapi kondisi kesehatannya perlu diperhatikan, sehngga justru yang kakek yang merasa lebih khawatir. Oleh karena itu, Bapak dan paman selalu berkunjung di tiap akhir pekan sebagai wujud bakti dan cinta kepada kakek. Bagaimanapun juga kehadiran merupakan kado terindah yang bisa memberi kebahagiaan di sisa umurnya.


Kakek membuatku belajar banyak hal. Di raut mukanya yang menua, aku melihat bahwa sejak muda beliau merupakan sosok yang disiplin dan tegas. Kakek masih bisa melakukan apapun sendiri, tanpa merepotkan orang lain. Bergaul dan melihat orang-orang yang beranjak senja mengingatkanku bahwa suatu saat nanti aku akan tua. Orang tuaku juga akan bergerak menua. Lalu, bagaimana? Akan berlaku seperti apakah kita nanti? Menulis tentang ini, ada sebuncah haru yang ingin tercurahkan terutama ketika terekam kembali jasa dan pengorbanan orang tua. Ada sebuah quote menyentuh yang mencoba mengingatkan kita untuk tidak lupa bahwa ketika kita tumbuh dewasa, orang tua kita juga tumbuh menua. 


Mengingat sepenggal cerita tentang kakek membuatku menanyakan kembali tentang:
- Di manakah orang tua kita dalam rancangan masa depan kita?
- Sudah cukup berbaktikah kita? Bagaimana sikap kita selama ini, cukup membuat mereka bahagiakah? Ataukah malah lebih banyak manyakiti
- Cukup egoiskah kita dengan kesuksesan yang kita impikan? Egoiskah kita dengan keputusan hidup kita? Coba bandingkan, egoiskah mereka dengan pilihan hidup mereka?
- Sudahkah kita rutin mendoakan mereka? Bayangkan betapa repotnya mereka membesarkan kita sampai sedewasa ini.  

Mari kita mengumpulkan amalan soleh yang tidak akan putus-putus dan mendoakan agar seluruh orang tua di muka bumi ini mendapatkan kasih sayang dari anak cucu mereka. Amiien.

Sunday, December 11, 2011

Bless us with Righteous spouses ♥


"Our Lord, grant us from among our spouses and offspring comfort to our eyes and make us an example for the righteous."

(Du'aa from Surah Al Furqan, ayah 74) 


“Allaah has already written the names of your spouses for you. What you need to work on is your relationship with Allaah. He will send her/him to you when you’re ready. It is only a matter of time.”

True love is from the one who helps you attain Jannah (together); not the one who holds your hand, smiling at you as you walk towards Hell. 

All picture ans content above were inspired and copied from here.

Saturday, December 10, 2011

ketika setelah mengaduh

pejam mata..
temaram lampu membawa syahdu..
malam, mata memata-mata jangan diraba
peluh, penuh mengeluh mengelu-elukan hati
hati, mendekat hati-hati memeluk hangat rapat..

tak ada sadar..
naluri tak banyak bicara,
diam, patuh pada firasat.
menderu mengecam pada yang laknat
menyayat akal dan asal muasal

beradu, antara aman dan iman
membisik jernih dan mendesah lirih.
menepi, merapat, antara aman dan iman
tipis bagai ari, menari-nari dalam nikmat sesat

sesaat, ada mata lain menari
mata hati dan nurani kemana engkau pergi?
dimana Engkau yang menjaga hati.
semua tak bertepi, hanya bersandar pada yang fana.
semua akan sia-sia tanpa doa.

(november 2011)
=Kf=

Simple Life for Happiness

You wouldn't wonder if I say that the happiest place to live would be one of Scandinavian countries. You could explain easily the reason why those countries were entitled that why. Most of us would justify that the economic welfare would increase life satisfaction and generate happiness. That is very logical reason. But if I said that Tibetan and Bhutan people are among the most happiest people on earth. "Wow. How come?" That must be your first reaction.  On the contrary, I amazed by the fact that on the developed country like Japan, suicide cases occurs very often. Even nowadays the country that spread 'K-Pop fever' worldwide, South Korea record more suicide cases on these past years as economic developed. If we tried to case-analyzing those two countries, we found that there isn't single factor to determine that social problems. But if I may conclude one thing, it indicates that Korean people isn't much happier compared to those Tibetan. So it hampered the justification that happiness is linear with economic development.


On this post, I wont talk deeply about the relations between welfare or prosperity with the quality of life or happiness in those countries. I will contemplate more on  my daily life in the sophisticated era. Firstly, I'd like to recall the old memories. Do you remember when we were young, we used to play in the ground; played 'hide and seek' and many traditional games. We really had fun, be happy and be cheerful. Compared to the children on this era, they experienced such a different thing. Now, they prefer to play play-station, game-online, or own various gadget. Maybe it's a worse comparison, but I just wanted to underline that on the past although we lived a simple world but we felt a sincere happiness.

Time machine explained and showed us that era indeed changes, technology develops, and people should also 'develops' to adjust perfectly with the changes. For me, technology is the best invention in people history and helps us work efficiently and conveniently. But of course it affect on people's life. Beside technology, the development also change people life-style. Globalization is the main factor that powerfully influence the life-style's changing. Not forget to mention consumerism, materialism, and hedonism.

What  I wanna question here is I wonder why people nowadays forget how to feel enough and how to live in a simple life. And the factor I mentioned above could be one of the reasons. People now want to have more, achieve more, and own more. Couple hours before writing I came to the conclusion that we urgently need to be back to nature. We need to learn how to value simple life, simple mindset, and simple ambition. By simply learning that, maybe we can find our inner happiness and gratefulness. 

Our daily pressure mostly comes from external environment. But our mindset and feeling shaping it. Why we feel sad, disappoint, and rarely happy? Sometimes it was driven by our overwhelming desire and ambition. Why want to have and achieve more? Because the media, social pressure, consensus told us to do so. And because we know that others can do. So, those factors trigger us to haven't felt enough yet. As the matter effect, we forget how to live a simple life. How to accept and thank for a simple thing.

Let's learn from our Tibetan and Bhutan friends. Although they live in a very simple life, they value life highly. They felt grateful for what they have. They live their life happily. And, let's be the kids. They are very pure, simple, and happy. For them, the world is only a play-ground.

Let's be simple!
Let's be happy!
Let's dreaming high, but don't forget your foot still stand on the ground!





PS : Tibet is really enchanting yet peacefully beautiful. Take me there someday *,*

pic 1 from here.
pic 2 from here

Thursday, December 8, 2011

Wednesday, December 7, 2011

Indonesia Malaysia Youth Exchange Program (IMYEP) 2011

Bulan Juni s.d. Juli tahun ini saya mendapat kesempatan untuk mengikuti Program Pertukaran Pemuda Antar Negara yang diselenggararakan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga. Berikut ini adalah artikel yang saya tulis menceritakan pengalaman saya mengkuti Indonesia-Malaysia Youth Exchange Program (IMYEP) 2011.

Bisa disimak dan dibaca di sini.

Tuesday, December 6, 2011

Elegi Kekecewaan


Di antara salah satu kondisi yang tidak mengenakkan adalah kekecewaan. Kecewa adalah titik temu antara pengharapan atau angan-angan, yang tidak kongruen dengan kenyataan.  Hampir semua orang pernah merasa kecewa terhadap aspek apa pun dalam kehidupan ini. Bahkan, sadar atau tidak pasti setiap orang pernah mengecewakan orang lain. Minggu lalu, ada beberapa orang yang mengalami perasaan itu. Salah seorang teman juga bercerita bahwa dia sangat kecewa  dengan kondisi (oknum x) di institusi  y, sehingga memutuskan untuk ‘move on’ dan memulai meniti harapan-harapan baru di jalan yang lain. Ternyata, setelah  saya flash back, banyak sekali pihak yang telah dikecewakan oleh faktor dan oknum yang sama. Mungkin saya juga bagian dari mereka. 

Kecewa yang mengendap terlalu lama tidak baik untuk kesehatan dan juga kecantikan. Hehe. Oleh karena itu, saya mencoba mengurai pengalaman merasai kecewa.  Ada asap, pasti ada api. Kecewa biasanya timbul dari kondisi atau hubungan yang tidak sehat. Karena tidak mungkin suatu relasi yang baik dan sehat akan menmbulkan perasaan kecewa dari salah satu pihak-pihak terkait. Kondisi atau relasi yang tidak sehat bisa juga diartikan sebagai ketidakadilan, kurangnya komunikasi, kekurangbersyukuran, kurang sinergis, dan lain-lain. Kecewa yang paling tragis dan tidak mengenakkan adalah ketika tidak mampu meluapkan atau mengungapkan rasa tersebut kepada pihak yang mengecewakan. Saya akan mengambil contoh, misalnya saya sangat  kecewa terhadap  sikap pemimpin yang  tidak adil, egois, pragmatis,  dan ‘politis’. Tetapi saya tidak bisa berbuat apa-apa, karena perbedaan hierarki kekuasaan dan karena pemimpin memiliki kekuasaan relatif yang lebih benar. 

Maka, bersyukurlah ketika kita masih bisa mengutarakan rasa kecewa  dengan jujur kepada pihak yang telah mengecewakan. Setidaknya kita telah jujur pada diri sendiri dan orang lain serta berusaha mengubah keadaan agar kita merasa lebih ‘plonk’. Perubahan keadaan, terutama hubungan antara beberapa pihak yang terkait, bisa mengarah ke dua kemungkinan, yatu lebih buruk atau lebih baik. Semua tergantung bagaimana cara menyikapi dan mengomunikasikan persoalan tersebut.

Perasaan kecewa sungguh tidak mengenakkan, baik bagi pihak yang membuat kecewa atau pihak yang mengecewakan.  Berikut ini adalah beberapa hal yang bisa dicoba untuk mengeliminasi sakit atau tidak enaknya rasa kecewa:
1.       Tidak memendam rasa kecewa yang berlarut-larut.
2.       Menyalahkan dan mendendam adalah perbuatan yang sangat sia-sia dan tidak berguna. Lebih produktif jika kita introspeksi.
3.       Meminta maaf dan memberi maaf akan lebih melegakan, walaupun sulit.
4.       Lebih mendekatkan diri kepada Sang Pemberi Rasa. Memohon agar selalu didekatkan dan dilindungi sehingga kita bisa ikhlas dan berpikir bahwa kecewa adalah perasaan yang sementara
5.       Mendengarkan musik yang mendamaikan dan menyemangati. Jangan yang sedih2.
Misalnya : lagu-lagu religi, tentang kematian, kebesaran Tuhan, lagu tentang mimpi, semangat, kegemberiaan dan keceriaaan, serta berbuat baik kepada sesama.
6.       Membaca Al-Qur’an dan/atau buku-buku  yang menginspirasi.
7.       Keluar ke jalan. Memperhatikan di sekitar secara lebih dekat. Memandangi  erat-erat mereka yang masih kekurangan. Pasti hati kecilmu lupa dengan perasaan kecewa, tetapi lebih banyak bersyukur dan berfkir sia-sia kecewa karena hal yang masih sepele, tetapi akan bertekad menjadi orang yang lebih bermanfaat bagi sesame.
8.       Menyambung silaturahmi dengan saudara atau teman lama. Mempererat silaturahmi dengan orang-orang yang mendukungmu dan yang bisa menghiburmu.
9.       Gunakan momentum untuk meningkatkan kualitas diri.

Salam,
Kiki Fauzia

Gambar dari sini

Tuesday, November 1, 2011

Hujan di Awal November



Pertama kalinya hujan bertahan lebih lama di kota Jogja. Hari ini, di awal November. Ada sorai bahagia menyelinap di kalbuku, dan kuyakin banyak teman lain merasakan hal yang serupa. Walaupun hujan menahanku di tempat asing ini, tapi ritme hujan memaksaku untuk menulis blog lagi, setelah posting terakhir September lalu. Kalau tidak salah, ini hujan ketiga kalinya yang turun di Jogja. Dan inilah, hujan paling lama yang kami alami. Sebelumnya, hujan  hanya mampir sejenak dan tak pernah bertahan lebih dari setengah jam. Tak sebanding dengan mendung  yang nyaman bertahta di atas awan selama berjam-jam. 


Bagi kami yang tinggal di kota Pelajar ini, sudah lama kami mendamba hujan. Hampir sebulan ini, kami bersahabat akrab dengan hawa panas dan lembab yang membuat keringat bercucuran. Bagi anak kos yang tidak bermodal AC atau kipas angin, bersyukurlah karena anda mendapat fasilitas gratis mandi sauna di kamar pribadi. Dan berharaplah itu akan membakar kalori tubuh Anda. Setidaknya itulah yang kurasakan selama berminggu-minggu ini karena kipas angin di kamar sedang bermasalah. :)


New Blog Template
Selamat datang di template baru blogku ini. Semoga suasana baru ini lebih menyegarkan dan membuat pengunjung betah membaca di sini. Haha. Pada dasarnya, manusia dianugerahi sifat jenuh dan bosan. Oleh karena itulah kita difasilitasi berbagai media untuk membunuh kejenuhan dan kebosanan itu. Hal itu juga terjadi pada blog pribadi ini. Semoga dengan perubahan template ini aku lebih rajin lagi menulis dan berbagi cerita.


Di bulan ini setahun lalu, aku masih ingat, suasana batinku dalam kondisi yang tidak sehat, dan galau. ^^ Kemudian, lahirlah blog reflleksi "Menyemai Harapan dan Keyakinan". Di bulan November tahun ini, aku harus lebih optimis, percaya diri, dan yakin bahwa Allah akan menjaga hati orang yang berkhusnudhon kepada kehendak-Nya. 



Sekian dulu update sore ini. Semoga kita tak henti-hentinya bersyukur atas apa yang kita miliki dan masih bisa kita rasakan. Apapun itu, dalam suka, duka, sedih, kecewa, bangga, dan bahagia. Tidak boleh berlebihan dan tidak boleh berjalan dengan penuh kecongkakan. :)


Salam optimis,


Kiki Fauzia




 pic above, copied from here 

Tuesday, September 20, 2011

Eling lan Waspada

Beberapa cerita dan kejadian selama beberapa hari ini berhasil membuat saya kaget, terharu, dan berempati. Banyak pelajaran yang bisa dipetik, di antaranya: 
1) Semoga dalam perjalanan ke depan, saya tidak akan bertindak melampaui batas, dan di luar jalur, yang bisa menyakiti diri sendiri, apalagi orang lain.
2) Kita selalu dianjurkan untuk menghormati orang lain. Namun seringkali kita lupa bahwa sangat penting untuk menghormati diri sendiri; hak kita, harga diri kita, dan kehormatan diri itu sendiri.
3) Tidak semua hal membutuhkan penjelasan. Hanya waktu yang bergulir yang akan menjawabnya di saat yang tepat. Dan pada akhirnya, kita akan ‘menertawakan’ diri sendiri dan lingkungan kita, terutama untuk noktah yang terukir. Bukan untuk menyesali, tetapi untuk menghibur diri. Itu tandanya, kita telah tumbuh berbesar hati.
4) Mudah sulitnya hidup merupakan pilihan kita sendiri. Kita yang seringkali mempersulit, padahal kadang hanya butuh menjadi sederhana untuk menjadi mudah. 
Semoga kita tergolong orang beruntung.  
Sak beja-bejane wong, isih luweh beja wong sing eling lan waspada.#jaman uedyan#
Waspadalah, waspadalah! Itu pesan Bang Napi.

Tuesday, August 30, 2011

Turbulensi Kalbu

Refleksi di Penghujung Ramadhan
Bismillaah. Saya mencoba menulis ini dengan hati yang damai. Setidaknya mencoba berdamai dan mendamaikan hati sendiri. Dan memperbanyak istighfar terbukti sangat membantu. Ramadhan ini adalah perjuangan dan pergulatan bagi iman dan batin saya. Setidaknya itu yang saya rasakan, dan saya selalu berdoa semoga menjadi hamba Allah yang beruntung, yang selalu lebih baik lagi, baik dari segi pengembangan karakter, intelektual, sosial, maupun spiritual. Aamiin.

Ada beberapa krisis diri yang berhasil terdeteksi, tidak hanya oleh anggota keluarga, tetapi oleh teman dekat. Awalnya mungkin hal tersebut saya anggap sebagai suatu kewajaran, pembiasaan yang berulang, dan bagian dari ciri khas. Tetapi saya menyadari, ternyata ada yang tidak beres dengan saya. Haha. Ketika di rumah saya biasanya berkelakar, “Mungkin ada sambungan kabel saya yang masih terputus, atau tertinggal di mana”. Maka, saya sangat berterima kasih kepada yang telah mengingatkan akan hal penting tersebut. You know me so well, lah.

Dunia adalah panggung sandiwara, begitu kata lagu. Yups memang, namun bagi saya, kehidupan bukan hanya sekedar permainan. Walaupun kita sering bermain di situ, memainkan lakon dalam pentas kehidupan. Menjadi aktor dengan berbagai ciri khas dan karakternya. Namun, bagi saya, itu semua bukan hanya permainan. Kehidupan merupakan hubungan kausalitas antara proses dan hasil. Kehidupan juga mempunyai detak dan nafas yang selalu menggerakkan kita ke arah depan, bukan ke belakang. Artinya, kehidupan berorientasi ke depan. Terus bergerak dan menatap ke depan. Bukan berarti masa lalu dan saat ini tidak diperhitungkan. Justru keduanya adalah pijakan supaya kita bisa lebih bijak sekaligus realistis menghadapi masa depan. Detak dan nafas adalah elemen kehidupan yang menjadi energi yang harus diisi oleh iman, semangat, dan harapan.

Walaupun kita adalah aktor dan sering ‘bermain’, namun kehidupan bukanlah permainan karena ada pertanggungjawaban nantinya. Kita harus bertanggung jawab atas apa yang telah kita lakukan dan ucapkan. Entah, akhir-akhir ini saya teringat ucapan saya beberapa tahun lalu. Memang isolasi kadang dibutuhkan untuk menjadi diri sendiri. Karena tidak semua yang kita dengar, lihat, dan ucap adalah benar. Kadangkala sifatnya justru maya, terbalik, diperbesar. Oleh karenanya, saya belajar untuk tidak bertindak gegabah dan tetap positif. Feeling positive is so powerful, dan baik bagi kesehatan hati kita.

Urusan hati. Wilayah ini sangat rentan. Maka, kenalilah hati dengan baik. Kuatkan hati dengan mengingat Alloh dan hal-hal yang positif. Dalam suatu segmen percakapan dengan Bunda malam lalu, saya bercerita banyak hal. Salah satunya, saya merasa sedih dan kecewa mengapa ada beberapa oknum yang sudah terikat komitmen ataupun dalam tataran profesional bisa terlibat ‘affair’. Saya bertanya heran, dan jawaban Bunda singkat dan enteng. “Ya, karena itu menyangkut hati!” Saya tak bisa menyanggah dan hanya terdiam. Dalam hati, saya membenarkan. Maka, sangat berhati-hatilah menjaga hati.

Tidak ada suatu pertemuan atau kejadian yang sia-sia, jika kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran. Saya pernah mempertanyakan ke semesta, “mengapa saya dipertemukan dengan orang-orang tertentu?” Setiapnya akan meninggalkan beberapa rekam dan jejak yang mengukir rasa yang berbeda. Ada cinta, benci, kagum, kecewa, iri, dan lain sebagainya. Kadang saya berusaha flash-back dan memilih untuk tidak berada di episode itu. Tetapi ternyata saya salah. Justru merekalah yang memberi warna, memperkaya, dan menyadarkan kita akan kehidupan yang terus bergerak tadi. Tuhan mengenalkan mereka ke dalam kehidupan kita tidak lain adalah supaya kita lebih mengenal diri sendiri, supaya kita bisa tersenyum, supaya kita bisa menangis, supaya kita belajar tegas, supaya kita lebih peka, dan supaya kita paham bahwa kita harus memilih. Pada intinya, supaya kita tumbuh dan berkembang.

Urusan memilih. Sulit, karena pada dasarnya kita yang selalu mengingankan yang terbaik belum tahu mana yang terbaik buat kita. Sulit lagi karena ketika memilih kita dihadapkan pada konsekuensi keberpihakan. Keberpihakan berarti memberikan porsi yang berbeda pada pihak yang lain. Dan pada dasarnya setiap orang ingin menjadi yang spesial dan istimewa. Ingin menjadi yang satu dan tidak ada yang dua, apalagi beberapa yang lain. Dalam hal ini, keberpihakan tersebut akan menimbulkan konsekuensi tersendiri. Dan, oleh karenanya saya berpendapat bahwa kita tidak bisa membagi kebahagiaan dengan porsi yang sama bagi semua orang. Karena pada dasarnya ada yang dikorbankan, atau kita sendiri yang berkorban. Atau mungkin tidak bisa dianggap berkorban karena itu adalah pilihan yang sadar.

Pilihan yang sadar adalah hal lain lagi. Sangat sulit untuk memperjuangkan sesuatu yang ingin diperjuangkan tetapi sangat sulit diupayakan, bahkan tidak mungkin karena kita akan mengorbangkan lebih banyak lagi. Menyedihkan, ketika semua fase itu hanya terhenti pada kesimpulan yang ‘wishful thinking’. Lagi, lagi, wishful thinking selalu menjadi topik ketika menjalin suatu hubungan. Ketika dihadapkan pada dilematis hubungan, maka sejak awal Ramadhan saya bersimpuh, supaya Alloh sajalah yang member petunjuk. Semoga istikhoroh itu memberikan jawaban, yang tidak dipaksakan.

Awalnya, saya ketakutan tanpa alasan. Saya bahkan harus diyakinkan oleh beberapa orang terdekat. Keyakinan mereka walaupun saya membenarkan namun seringkali berseberangan dengan nurani. Intinya, saya belum menginginkan adanya perubahan yang signifikan. Kalaupun tidak cukup beralasan, saya sudah berfikir panjang bahwa saat ini bukan waktu yang tepat. Dan semoga dipahami. Saya ingin memohon maaf sebesarnya atas keputusan yang berat ini. Saat-saat ini rasanya saya ingin berlari kencang, menghilang, atau berteriak keras di suatu tempat yang tak berpenghuni. Tapi itu bukan pengalihan yang tepat untuk kehidupan yang berorientasi ke depan.

Ramadhan ini juga membukakan mata saya bahwa saya harus bersyukur, bahwa kerasnya hidup itu ada dan nyata. Dan saya harus kuat menghadapinya. Lain hal lagi yang membuat saya bangga sekaligus sedih adalah I felt that everyone’s leaving soon. They even did already. They are chasing their dreams. They have been so happy and full of glory. But on the other hands, I knew some people struggling so hard to make their living, to chase part of their future dreams also. They feel much pain before they gain something. Yeah. Those peeps taught me a lot. Thank you.

Akhirnya, di penghujung Ramadhan ini saya meminta maaf sebesar-besarnya atas semua persinggungan dan kesalahan yang tidak berkenan di hati. Semoga kita bertemu, dalam kehangatan dan ketulusan hati, bertemu juga Ramadhan tahun depan yang lebih berkah.

Semoga kita bersama-sama meraih kemenangan di hari yang fitri ini. Aaamin.
Dengan segala kerendahan hati,
Kiki Fauzia

Wednesday, August 10, 2011

Lillaahi Ta' ala, Sudahkah?

these days, I like to reblog inspiring tumblr that directly slap on my face, bu at the end, it has such a powerful effect on my soul.


Rasulullah SAW bersabda:

“Siapa yang bangun di pagi hari dan hanya dunia yang dipikirkannya, sehingga ia tidak mengingat Allah (tidak berdzikir) maka Allah SWT akan menanamkan 4 penyakit:

1. Kebingungan yang tiada putus-putusnya

2. Kesibukan yang tidak pernah ada ujungnya

3. Kebutuhan yang tidak pernah terpenuhi

4. Khayalan yang tidak berujung”

(HR Muslim)

*Ayo niatkan aktivitas karena Allah!


Above i got it from here. Astaghfirullah, mohon ampun ya Rabb!

Na' udzubillahi mindzalik :( Semoga kita dijauhkan dari penyakit tersebut.

Tuesday, August 9, 2011

NO Need A Reason?

Once I had a random browsing, and stumbled upon this very insightful tumblr. Here is one of Kuntawiaji's post!

Does Love Need A Reason?


Some people never understand, once a lady having a conversation with her lover, she asked:

Lady: Why do you like me? Why do you love me?
Man: I can’t tell the reason, but I really like you.
Lady: You can’t even tell me the reason, how can you say you like me? How can you say you love me?
Man: I really don’t know the reason, but I can prove that I love you.
Lady: Proof? No! I want you to tell me the reason. My friend’s boyfriend can tell her why he loves her, but not you!
Man: Ok, Ok! Emm…because you are beautiful, because your voice is sweet, because you are caring, because you are loving, because you are thoughtful, because of your smile, and because of your every movements.

The lady felt very satisfied with the man’s answer. Unfortunately, a few days later, the lady met with an accident and went in comma. The Guy then placed a letter by her side, here is the content:

Darling, because of your sweet voice that I love you, now can you talk? No! Therefore I cannot love you. Because of your care and concern that I like you, now that you cannot show them. Therefore I cannot love you. Because of your smile, because of your every movements that I love you, now can you smile? now can you move? No! Therefore I cannot love you. If love needs a reason, like now, there is no reason for me to love you anymore. Does love need a reason? NO! Therefore, I still love you.

Sunday, July 31, 2011

Ridhollaahu fi Ridhol Walidain

29 Sya'ban 1432 H

entah, emboh, ga tahu, pusing, bingung, pening, plin-plan, sedih, sayang, keluarga, hati, galau, sementara, masa depan,.....

Apapun itu...

Hanya bisa berserah kepada Dzat yang Maha membolak-balikkan hati manusia. Penguasa Hari Ini, Masa Depan, dan Hari Akhir. Kepada-Mu Hamba memohon yang terbaik.

Saat ini satu yang terpikirkan, dan harus mulai belajar merelakan dan mengeliminasi egoisme dan euforia yang melenakan, yakni harus ingat bahwa "Ridho Allah terletak pada ridho orang tua."

Saat ini, mungkin cukup itu saja dulu.

Terima kasih.

Semoga Ramadhan ini semakin meneguhkan hati kita untuk senantiasa memperbaiki diri, merendahkan diri di hadapan-Nya, dan berlomba-lomba lagi untuk menjad sebaik-baik manusia. Amieen ya Rabb. Semoga kita semua mendapat kebahagiaan dan berkah-rahmat Ramadhan yang selalu kita nanti-nantikan. Amieen.

Saturday, July 23, 2011

Reflection: Assertiveness on Decision

Dear universe,

I think, I should close my ears, eyes, and mouth as soon as possible, then start thinking logically, because I am still questioning : Where is their quality of assertiveness? I believe when BIG DECISION made,we will sacrifice some other aspects (can be stuff or person) that we already struggled for or hold on for a long time. I know it's very hard, but that's a big deal. We named it CHOICE and CONSEQUENCES. Some people might need more time to wait, calculate, predict, and finally logically act. But at the end, it will proof whether it is worthy decision or only playful one.

Sometimes, the ambiguity and dilemma comes within BIG DECISION. But that what life teaches us. It's all about choices, and responsibility to take a consequences when risk happens. But, the practice on the real life is not as easy as it was written. In life, most times we act in our comfort zone or safety box. We want no one hurts and no one complain. But, how long it will last? So, all we can do is (again) wait and wait for the momentum is coming. I don't know. All I know is : it's not easy.

Best regards,

Kiki Fauzia

Tuesday, July 19, 2011

LIFE and LOVE so far : mysterious

Last Sunday, I was finally back to Jogja, to continue life, study, and work. There are many stories I wanna share since I haven't update any story yet in these past few weeks. Yeah, life has been so good, dramatic, and euphoric. All I can say is life is so mysterious and surprising. I once updated my Facebook status, "life is full of surprises, so appreciate it, and be prepared!". And up til now I still absolutely agree on that sentences.

I just came back from my participation on Indonesian-Malaysia Youth Exchange Program 2011 as the delegation from East Java. During the program, I met many talented and bright youth from all over Indonesia. There are all unique and different, in terms of culture, characteristic, and appearance. I felt very blessed to know and be friend with them. I will post a separated entry about the program later on.

Life is mysterious. Who control the destiny, heart, and life-plot? I understand that God has The Invisible Hand to manage those complicated flow. That is why when thing happens, I often can't give the logical and literal reason. That's also why I enjoyed the de-facto feeling and valued the preciousness of moment. I still like to quote MLTR lyric, which is "Love will never lie". So, when it greeted me genuinely and enthusiastically, I gave the feeling chances: to fill and to be filled by the greatest sense and power of human-being. And it is indeed, to love and to be loved gives you strength and courage. So, be happy and celebrate the feeling with the most elegant and gracious way of your own.

But, I am still worried. Why? Because when life is covered by too much illusion and emotion, what I need the most is FAITH and HONESTY? I hope we can always hold those two principles. So, although many beautiful and praising words were sell and spread out to many other people. We still can be true to our self and realize that he/she is not only special but always been a part of us. No one knew better, except there is only us, and Him of course.

With a conscious mind,

Kiki Fauzia

Wednesday, June 8, 2011

Devils--Overrated

These two days I heard and experienced quite often the phrase "The devils is in the details". Yeah, the small things could carry a huge impact as a whole, and we should start paying attention more on those details. It will be very challenging and tricky. So, don't underestimate those that might be considered as a small or invisible. It sometimes is very significance element.

Talking about devils. I was very concerned about my chaotic heart. Yeah, there are things that might be very difficult to accept, things that we can't understand, things that doesn't fit with our understanding, things that hard to believe, things that shock, sadden, and disappoint us, but believe me that you should forgive yourself and others, if the condition happens. Why? because as long as we didn't do bad for others, and stay in the right line, nothing can really matters. All the condition doesn't remain eternal, only permanent. It could be very conditional and very personal. So, try to do your best to maintain your chaotic-heart.

Regarding my previous entry about appreciate listening, today I also examined the skill, and it is not easy. Most times listening patiently required the similar interest and the understanding that other people needs to be respected. If you don't have those two, you may still be able to pretend like you do, but it will be difficult, and you will surely lose the essence of existence. The situation today also taught me that you can't merely value person from their resume or CV, you gotta meet him/her, have an eye-contact, exchange words, and let the person show off what he/she's always being proud off.

Today, I am thankful that I am still healthy. God, I need You to be nearer. I hope I will reach You back as soon as possible.

Tuesday, June 7, 2011

Apreciate Listening

Appreciation.
Early this morning before starting the day, I read an inspiring article about "appreciation". It gave me spirit to start act that way. The article suggested that appreciation is a key to make our life more enjoyable and passionate. So by do appreciate things in our life we can produce an ultimate spirit, and increase our engagement into different things in life. How powerful it is! But how was it? Is that easy? As the day goes by, the answer is not as easy as I thought would be.

So, did I appreciate my day, people I meet, my work I have done today?
Woahhh, that would be such a reflective question. But, yeah, that's not as easy as I thought. To appreciate people or thing genuinely, we have to acknowledge and reduce the what is called selfishness, egoism, stubbornness, and many negative thoughts that might come across our mind.

What I learned today is about aspect of appreciation which are to be patient and listen more. Please, let other finished their sentences first and have more time for us to listen. Yeah, listen them patiently! Don't interrupt if they are not done yet! Your patience will be worth. Appreciation to people can be done by listening them patiently. Yeah, I am still learning, and it will be worth-learning.

Let's listen others more,

Kiki

Monday, June 6, 2011

Scavanger Hunt

What I feel now...

I miss me time, a private time, only me with Mr. S.
I miss my host family...
I miss my miles away host town..
I miss my foreign old friends..
I miss the excitement of learning new culture...
I miss the adjustment cycle...
I miss the jet-lag feeling..
I miss being a stranger in a new place...

Hey come on myself, why not enjoying each moment I have now, feeling it deeply, because at some other times I probably will miss it..

Sunday, June 5, 2011

Mendengar Alam

Drini Beach, South Mountain Jogja - June 3rd, 2011

Thanks a whole a lot to friend who rode me there.
We went to Sundak and Drini Beach.
The pic above is one of my fav pic taken on the up hill right behind Drini beach.
It was the perfect spot when I could listen to the nature.
Listen to the sounds of the waves.
Listen to the blows of the winds.
Listen to the rhyme of the sea.
Listen to what God has spoken to me beautifully.
It was there. Very obvious.

Thanks God! You are the Beauty!

Saturday, June 4, 2011

Hati Matahari



Awalnya, kami kehabisan tiket karena membeli tiket beberapa jam sebelum konser dimulai. Semua tiket terjual habis, dari tiket festival, VIP, bahkan VVIP. Kemudian berbekal kenalan di 'Progress Manajemen', saya menghubungi beliau dan menceritakan kondisi di lapangan. Alhamdulillah kami mendapatkan kursi tambahan. Terima kasih Mas Helmi atas bantuannya. Terima kasih luar biasa kepada teman saya yang rela antri, sabar menanti, dan menemani sampai akhir konser. Walaupun sempat kecewa karena Cak Nun dan Noe Letto tidak tampil, tapi overall konser sangat spektakuler, menyenangkan, hangat, dan menghibur.

31 Maret 2011, Taman Budaya Yogyakarta

Novia Kolopaking kembali menyapa masyarakat Jogja dan sekitarnya dengan senandung sapa yang telah lama dirindukan. Silaturahmi, dia menyebut konser dengan tajuk 'Hati Matahari' malam itu sebagai suatu persembahan untuk keluarganya, terutama masyarakat Jogja. Jogja adalah tempat yang dipilihnya untuk tumbuh, belajar, berkarya, dan mengabdi untuk 'sesuatu' yang sifatnya lebih transendental. Sejak tahun 1997, Novia meninggalkan Jakarta dengan segala atributnya. Sejak saat itu, dia mengaku tidak pernah berhenti berkarya, bahkan mengenal komunitas baru yang membawanya ke dalam dimensi baru, tetapi tetap bernyanyi, berkarya seni, dan menyelami pengalaman yang lain lagi. Bersama Kiai Kanjeng, diplomasi kebudayaan melalui konser musik ke berbagai benua berhasil dilakukan. Letto, baginya adalah anak yang lahir dan tumbuh dalam keluarganya, serta sejiwa dalam berkarya. Matarantai, dia mengumpamakan adalah anak bungsunya, yang baru saja lahir dan akan terus tumbuh dan berkembang.

Konser malam itu adalah kolaborasi apik, antara vokal Novia Kolopaking, aransemen musik Letto dan orkesta Mata rantai, serta musik gamelan Kiai Kanjeng. Dinamika nada dan irama yang menciptakan harmonisasi dan ritme yang syahdu dan memukau. Lagu-lagu yang dipilih malam itu adalah kombinasi antara lagu nostalgia, masa kini, rohani, dan karya-karya seniman handal Jogja dan seniman asing. Penontan dibawa bersenandung bersama dalam lagu-lagu lama seperti Bunga Mawar, Asmara, dan yang tak kalah populer soundtrack 'Keluarga Cemara' karya Arswendo, yang di-aransemen gabungan dengan lagu 'Tho'la'al Badru'. Ada juga satu lagu kesukaan saya,
Sandaran Hati, dan beberapa lagu lainnya. Meskipun mengaku sempat kehabisan nafas dan tidak hafal lirik lagu, Novia tetap menampilkan performa terbaiknya. Saya salut ketika dengan rendah hati dia meminta maaf atas segala keterbatasan tersebut dan mengharapkan pengertian penonton. Termasuk, ketika konser akan dimulai Novia yang masuk melalui koridor kursi penonton, menyalami satu persatu penonton di sekelilingnya. Sesampainya di panggung, dia pun meminta izin mencopot high-heels-nya dan memilih tidak memakai alas kaki karena lebih nyaman dan membuatnya lega. Haha.

Novia tergolong sangat komunikatif dengan penonton. Sesekali memberikan pendapatnya mengenai suatu isu tanpa ada kesan menggurui namun sangat bijak dan cerdas. Mungkin karena telah terbiasa dengan berbagai dialog dan diskusi yang dipandu Cak Nun dengan berbagai kalangan, sehingga dia lebih objektif dan kritis dalam berpendapat. Novia nampaknya juga telah belajar bagaimana caranya memberikan sentuhan humor dalam setiap kata-katanya. Yang menarik, termasuk pengakuannya ketika menjadi ibu rumah tangga adalah jauh lebih 'mudah' dan menyenangkan daripada menyanyi. Dia juga menyayangkan berbagai media yang seringkali memfitnah suaminya yang dianggap menyuruhnya berhenti berkarir dan bernyanyi. Padahal, justru suaminya lah yang paling mendukung agar Novia bernyanyi terus, termasuk menggelar konser malam itu.

Saya yang malam itu hadir di antara ratusan penonton yang memadati Gedung Konser Taman Budaya merasakan atmosfer kekeluargaan yang kental; hangat dan menyenangkan. Ada semangat pengabdian besar yang selalu diingatkan dalam setiap lagu untuk tetap setia pada Ilahi, dan menapaki kehidupan sesuai dengan jalan-Nya. Seusai konser saya merasa mendapat penyegaran dan energi baru. Bahwa salah satunya, keluarga adalah harta yang paling berharga, puisi yang paling bermakna, istana yang paling indah, serta mutiara tiada tara (menyadur dari Keluarga Cemara). Keluarga kandung dalah anugerah terindah yang Allah titipkan dalam kehidupan kita. Dan dalam lingkup yang lebih luas, semangat kekeluargaan inilah yang harus selalu kita pupuk, agar kita merasakan yang namanya solidaritas, simpati-empati, dan penerimaan. Tentunya, dalam kadar yang proporsional.

Hal lain yang saya pelajari, di antaranya hidayah adalah keberuntungan terbesar yang Allah berikan kepada hambanya. Tiada yang mampu memprediksi, bagaimana kita mengawali akan sejalan dengan apa yang akan kita kerjakan nantinya. Bahagia dengan pilihan yang kita ambil serta menjalaninya dengan tanggung jawab dan kebahagiaan adalah suatu kenikmatan hidup. Berdoalah supaya kita selalu dipertemukan dengan orang atau kelompok yang bisa membuka kepekaan hati dan pikiran kita untuk menjadi insan lebih baik, tanpa harus menjadi orang lain. Hahaha. Yang jelas, saya datang tidak sia-sia. Pulang dengan tidak hanya terhibur tetapi perasaan yang lebih kaya.

Saya menunggu konser Kiai Kanjeng dan Letto, yang dijanjikan akan segera datang. Let's stay tune!

Yang juga menyayangi Jogja dan keluarga,

Kiki Fauzia

Thursday, May 26, 2011

Bare and Blue



look at sky high
the beauty, tree
bare and blue
yes,
b a r e
and
b l u e


#missingapieceofmylife

Tuesday, May 24, 2011

writing helps

writing does help. to express what's inside when we are are not sure if others would care. it's also like cassette or play-list when we can re-play it every time we need to recall old memories. writing is just so helpful to release what feels heavy or not-right. i believed that our voices deserved to be heard. and through writing, all can be such a good yet patient listener.

Friday, May 20, 2011

Manusia, ooh manusia

Manusia itu aneh, tapi nyata..
Manusia, oh manusia..
Seringkali tak habis pikir dibuatnya..


Hari ini seharusnya menjadi hari yang luar biasa. Perpaduan antara hari Jumat yang penuh berkah dan Hari Kebangkitan Nasional yang penuh semangat menggelora. Tapi hari ini, ada beberapa kejadian yang membuat saya terheran-heran oleh ulah manusia..

Pertama, ada beberapa anak manusia yang terikat dalam kehormatan suatu instutusi, tetapi belum cukup dewasa untuk memahami makna interaksi profesionalisme, dan kewajiban moral sebagai pemegang tanggung jawab.

Kedua, ada beberapa oknum anak manusia kehilangan rasa percaya, apatis, dan sinis terhadap anak manusia lain yang dianggap kurang bisa menempatkan dirinya.

Ketiga, aneh. seorang penguasa tiba-tiba menemukan suatu fakta. mencium sendiri bau busuk, entah bagaimana bisa dan dari mana hidungnya terbuka.

Keempat, ada anak manusia yang selalu merasa berkuasa. selalu memimpin dan selalu ingin menang. baginya, rasa empati memang perlu di asah lagi.

Kelima, manusia-manusia ini selalu mencari kesempatan egosentris untuk kemenangan diri.

Kelima, anak manusia yang seringkali lupa diri 'menjatuhkan' manusia lain dengan halus dan agar diiyakan, tetapi lupa mawas diri bahwa bisa jadi manusia lain itu membuat dirinya jatuh.

Manusia-manusia yang dipersatukan karena kemampuan dan kecemerlangan. serta, kesenjangan antara pendapatan dan kepuasan ekonomi. dan bagi mereka, keringat-keringat yang telah menetes itu mahal harganya.

Namanya juga manusia, tempatnya salah dan lupa.

Bisakah kita mengharapkan maklum, dan terima adanya?

Saturday, May 14, 2011

Menangis dan Belajar Ikhlas


picture from here

Halo saudara sebangsa dan setanah air..

Tadi malam saya sempat sangat sedih.
Semua terjadi begitu cepat dan sekejab. Saya yang sama sekali tidak mengharap apa-apa, tiba-tiba diberi kesempatan untuk berharap terlalu tinggi. Tinggi sekali. Saya sempat sangat yakin sekali, walau ada grogi. Saya 'mungkin' juga terlampau percaya diri, dan mendahului kehendak-Nya. Saya merasa terbang tinggi ke awan dan melayang-layang. Karena salah satu impian saya, what i wanted really really badly, is in front of my eyes. Di lain sisi, ada hal yang harus saya korbankan. Dan ada kernyit bahagia di hati bahwa ada justifikasi untuk menunda suatu keharusan yang harus segera diselesaikan itu. Hahaha.. Yang, jelas semua terjadi begitu cepat.

Tiba di hari H. Ada kesalahan kecil fatal yang saya perbuat. Soal penulisan dan kejujuran. Di situ saya belajar, bahwa "Honesty is the best policy, and being thorough is a must". Di sesi interview, saya dihadapkan pada tiga orang pewawancara. Nampaknya saya harus lebih berusaha meyakinkan diri jika dihadapkan pada sesi wawancara semacam ini. Beberapa pengalaman terdahulu merupakan pelajaran berharga agar saya lebih mengeal diri sendiri. Kemarin berbeda, dua di antara pewawancaranya saya kenal baik. Tapi saya justru merasa tidak nyaman dengan itu. Haha. Entah mengapa, saya sendiri tidak memahami. Mungkin karena ketika kita sudah kenal, ada beberapa objektifitas yang tereduksi. Entah menguntungkan atau merugikan, yang jelas saya merasa tidak nyaman. Hehe..

Dalam masa penantian, dan sebelum keputusan diketuk palu, feeling saya sangat hambar. Artinya, saya tidak berharap banyak. Dan pun ketika kenyataan terasa pahit, saya masih merasa hambar. Saya sudah legowo sejak sebelumnya bahkan. Tapi ketika diberikan penjelasan mengenai kronologis dan alasan, saya justru sedikit mengernyitkan dahi, "is it fair?". Well, then I guess, banyak pertimbangan, dan mereka mempunyai otoritas untuk memilih dan mempertimbangkan. Justru yang pahit adalah di balik penjelasan itu. Kalauupun benar, seharusnya saya tidak usah tahu saja. Siapa tahu itu hanya 'penjelasan manis' untuk menenangkan dan menghilangkan 'rasa kecewa' dan 'malu' saya. Hanya Allah yang Maha Tahu bagaimana keputusan di buat. Dalam hati saya berdialektika dengan topik
"mengapa Anda layak untuk benar-benar diperjuangkan" Dan kesimpulan saya, ketika Anda memang tidak layak, pertimbangan lain-lain itu hanyalah faktor sekunder.

Akhirnya pelukan sang Ibu itu begitu menenangkan. Saya pun berusaha ikhlas, walaupun masih ada sedih dalam hati. Saya ingin segera pulang dan menceritakan semua kepada keluarga saya. Seperti biasa mereka menangkan. Saya ke kamar dan kemudian lahirlah entry blog saya sebelum ini. Entah, saya merasa harusnya saya bisa menangis di dalam kamar. Tetapi tetap saja belum bisa. Saya pun memaksa diri untuk menangis. Haha. Dan saya bangga air mata itu bisa keluar. Mengapa harus berusaha dan bangga? Karena saya tergolong anak yang jarang menangis. Entah, mungkin bisa disebabkan oleh beberapa hal: mungkin kurang sensitif, kurang sentimentil, hati kelu, atau positifnya, saya memang kuat, tidak cengeng, dan memang tidak perlu. Yang jelas, saya pernah berdoa supaya Allah memberikah hati yang lebih sensitif dan 'sensible'. Tapi dalam beberapa kejadian, tangisan saya selalu terlambat, memang. Dan akhirnya, saya senang bisa menangis malam itu. Lega.

Sayapun memejamkan mata. Hari pun berganti. Pagi ini saya bertemu teman-teman seangkatan untuk berfoto bersama. OMG, it's been four years. Can I record what I have done during the past years? Kemudian saya berfikir dan mulai menyadari, kuncinya adalah tahu tujuan hidup dan ikhlas. Dua hal itu lah yang penting.
Karena ketika kita tahu apa tujuan akhir hidup kita, dan ikhlas dalam menjalaninya, pasti tak ada sedikit pun yang bakal kita sesali. Tak ada pekerjaan dan perbuatan kita yang sia-sia, kecuali kita sendiri yang membuatnya sia-sia. Kesedihan dan perasaan apa pun sifatnya hanya sementara. Saya pun menguat kembali, mengikhlaskan semuanya lagi. Dan mengingat kembali tentang apa tujuan akhir hidup saya. And at the end, I realize that I should have faith in God. Because He is indeed the Best Life Director!

Saya beriman, oleh karenanya saya kuat! Belajar ilmu ikhlas memang tidak mudah.

Salam ikhlas, dan tetap semangat!

Kiki Fauzia


So Very Much Sad

Ya Allaaaaaah,

Berikanlah aku samudra air mata malam ini :((
Tapi, aku ini hamba-Mu yang beriman, jadi kuatkan aku dengan kasih-Mu!


*Blogger.com why did you sudden me by being error, and dismiss my previous entry about " A Cup of Complicated Heart"? Oh one thing, I wanna ask you about this : Mengapa kita benar-benar layak diperjuangkan? I hope my previous post is really worth-maintained.

Wednesday, May 11, 2011

A Cup of Complicated Heart

credit picture here

Setting
:
On my 3x3 cubicle room. Enjoying a cup of coffee to comfort me tonight. Listening to series of MLTR songs. Now "Complicated Heart" is ON. I supposed to finish my writing, but I don't. I don't have any guts at all. I happened to see such a blinking star today, should have followed the light, but I hold back. OMG, it's so near. So near. Please approach me with your elegant yet modest way! Please, lead me with Your light, show me Your best plot of my life-line.. Please, I am begging..

Dear readers,

Sorry in advance. This is another trash-entry of my grumble. Please don't mind to read this.

Recently, I found that many people are just too self-centric and egoistic? Don't you think so? Ehmm, I don't know. May. Yeah, it's May. Maybe Yes and Maybe No. So, why you care of other business? I don't, seriously. But, it is also evidence that you are egoist. So, fine with that. Maybe, we need sometimes to be egoist. Until, we finish with our own business to start care with others. Haha. Maybe, that's wrong. But, I don't care.

Then, I am questioning myself. Have you hurt others? Have others hurt you? How did you feel about it? Feel good in pain, huh? So, I am just so wondering. Why there are human beings who tend to do such a thing, and even feel good and laugh afterward? So, please reverse that condition.. That's why most times, I rather withdraw myself and chose to be neutral.

Also, how many times you 'mute' yourself? Or choose to be 'invisible' in the crowd? Or feel never 'exist'? Then, what does that mean? It means that you ar
e carefully listening and seeing, until you started questioning? What's wrong with me, what's wrong with them, what's wrong with this, and that. And, actually nothing is wrong. You are just too afraid of your own-fear. Until you limit yourself with your fortress.

For those who are permissive, you are not alone.
You, who know the consequences, but broke the lines.. You are not alone.
You, who know there will be a nightmare, but sleep on very well.. You are not alone.

Hi my dear heart,
We should be really grateful that today we still feel the pain before we gain something. Look outside, how many less-unfortunate people around us who gain nothing, but consumed pain each day and everyday until i
t doesn't feel like pain anymore. Because they are living on it.

Hi my dear friends,
Please mind your mind! Our heart is too chaotic. Please look at the mirror before start to blister others!

Hi my dear God,
I may ask You to give me a much better brain, better memory.. but what I need the most now is the sensible heart! Make each day of my lif
e is worth-living and worth to be remembered!

Hi my dear universe,
Why are there so many people on this world? Tho
se who come and go, stay and leave, remembered and forgotten, harsh and kind. Those people in our life who ever say 'hello', 'blink', or even 'touch' our life. I hope we can learn from each others. Life is such mystery. I hope there will be no more misery. Please accept the things that we acknowledge the differences. So, i think it's better NOT to follow others, before you learn to follow your heart.

I am learning through my good friend that I should :
Love and appreciate them who treat me right! Forgive and forgot those who don't!

Look at this below. I hope you found it very relieving.

Anyway, my most favorite quote, is a saying from a good friend who tells me: "You are not alone!" So, thank you for reading this, at least you convince me that I am not alone.

I think I should stop now because I am haunted by such a blinking star! I better to chase it now or never! It's really near :) Please wish me luck!

Thank you.

PS. I cant wait for such a surprising news! I hope it's a good one!

Monday, April 25, 2011

About Love

image from here


What I posted on the previous entry titled "Abstract Entry" abstractly described my feeling at that time. I just implicitly said that I suffered yet enjoyed at the same time the joy to be drugged on abstract feeling, called "love". Since I felt abstract and consciously thought that it will last only temporary, so I deprived the feeling. So, I lied to myself about what's going on. But then I listened to the song whose lyric told me that "Love will never lie". So I nodded, and understood I can lie others but I can't lie myself. But the substantial question is not about falling in love or love itself, but how far it will go? Or in popular verses, (Mau dibawa ke mana....). Haha.. That question will take me further to other variants which involved consequence, responsibility, and principle.

Love is indeed beautiful feeling when we can be so ecstatic, energetic, and euphoric about something or someone. Then, I found such a nice poem from Rumi on Love. "Wherever you are, whatever you do, be in love". Yeah, Rumi is such a great Lover, in different degree of love. He really captivated me with the noble yet majestic love that can't be argued. Yeah, I am now falling in love with the poetry about Love by Rumi.

It's only intermezzo in the middle of reading journals for my thesis. Yeah, yesterday my Mom reminded me about the essence of priority, and showed me a gateway to move forward to another life journey, which should be started by finishing my thesis. Thanks Mom. Anyway today is her birthday. I sent her message last night and she answered back with such a great prayer to her children. Thank you for your endless love, support and prayers, Mom! I guess it is also another sample of genuine love that will never lie.

Please enjoy Rumi's poems :

    This World Which Is Made of Our Love for Emptiness

    Praise to the emptiness that blanks out existence. Existence:
    This place made from our love for that emptiness!

    Yet somehow comes emptiness,
    this existence goes.

    Praise to that happening, over and over!
    For years I pulled my own existence out of emptiness.

    Then one swoop, one swing of the arm,
    that work is over.

    Free of who I was, free of presence, free of dangerous fear, hope,
    free of mountainous wanting.

    The here-and-now mountain is a tiny piece of a piece of straw
    blown off into emptiness.

    These words I'm saying so much begin to lose meaning:
    Existence, emptiness, mountain, straw:

    Words and what they try to say swept
    out the window, down the slant of the roof.


    Love is Reckless

Love is reckless; not reason.

Reason seeks a profit.

Love comes on strong,

consuming herself, unabashed.

Yet, in the midst of suffering,

Love proceeds like a millstone,

hard surfaced and straightforward.

Having died of self-interest,

she risks everything and asks for nothing.

Love gambles away every gift God bestows.

Without cause God gave us Being;

without cause, give it back again.


Thanks Rumi, your poem is such a medicine for my reckless love. Thank you, I feel enlightened :)

Wednesday, April 13, 2011

Abstract Entry

gambar dari sini

"Terkadang, 'rasa' datang tanpa butuh alasan. Dan seringkali rindu menghampiri, tanpa permisi." (KF, 2011)

My Recent Feeling

Arghh, perasaan saya sedang abstrak. Sulit untuk diungkapkan, hanya saya sendiri yang menikmati. Rahasia kedalaman hati yang tidak ingin saya bagi, secara gamblang. Hati sedang melankolis, tapi logika pikir mengatakan, " Ini hanya temporary!" Sindrom yang wajar, dialami banyak orang. Tapi, harus dikendalikan dan diarahkan ke sisi-sisi yang lebih positif. Walaupun, banyak jalan yang bersimpangan, tidak paralel ke satu tujuan, namun banyak kebijakan dan ketenangan yang saya gali dan pelajari.

Terima kasih telah memberikan sepihak rasa untuk kekayaan jiwa. Biarkanlah waktu yang menuntun secara sabar untuk menemukan alurnya. Apakah nanti, menyublim atau tersedimentasi. (?)

This is truly abstract. Thank you for reading.

Kindest regards,

Kiki Fauzia