Sunday, June 5, 2011

Mendengar Alam

Drini Beach, South Mountain Jogja - June 3rd, 2011

Thanks a whole a lot to friend who rode me there.
We went to Sundak and Drini Beach.
The pic above is one of my fav pic taken on the up hill right behind Drini beach.
It was the perfect spot when I could listen to the nature.
Listen to the sounds of the waves.
Listen to the blows of the winds.
Listen to the rhyme of the sea.
Listen to what God has spoken to me beautifully.
It was there. Very obvious.

Thanks God! You are the Beauty!

Saturday, June 4, 2011

Hati Matahari



Awalnya, kami kehabisan tiket karena membeli tiket beberapa jam sebelum konser dimulai. Semua tiket terjual habis, dari tiket festival, VIP, bahkan VVIP. Kemudian berbekal kenalan di 'Progress Manajemen', saya menghubungi beliau dan menceritakan kondisi di lapangan. Alhamdulillah kami mendapatkan kursi tambahan. Terima kasih Mas Helmi atas bantuannya. Terima kasih luar biasa kepada teman saya yang rela antri, sabar menanti, dan menemani sampai akhir konser. Walaupun sempat kecewa karena Cak Nun dan Noe Letto tidak tampil, tapi overall konser sangat spektakuler, menyenangkan, hangat, dan menghibur.

31 Maret 2011, Taman Budaya Yogyakarta

Novia Kolopaking kembali menyapa masyarakat Jogja dan sekitarnya dengan senandung sapa yang telah lama dirindukan. Silaturahmi, dia menyebut konser dengan tajuk 'Hati Matahari' malam itu sebagai suatu persembahan untuk keluarganya, terutama masyarakat Jogja. Jogja adalah tempat yang dipilihnya untuk tumbuh, belajar, berkarya, dan mengabdi untuk 'sesuatu' yang sifatnya lebih transendental. Sejak tahun 1997, Novia meninggalkan Jakarta dengan segala atributnya. Sejak saat itu, dia mengaku tidak pernah berhenti berkarya, bahkan mengenal komunitas baru yang membawanya ke dalam dimensi baru, tetapi tetap bernyanyi, berkarya seni, dan menyelami pengalaman yang lain lagi. Bersama Kiai Kanjeng, diplomasi kebudayaan melalui konser musik ke berbagai benua berhasil dilakukan. Letto, baginya adalah anak yang lahir dan tumbuh dalam keluarganya, serta sejiwa dalam berkarya. Matarantai, dia mengumpamakan adalah anak bungsunya, yang baru saja lahir dan akan terus tumbuh dan berkembang.

Konser malam itu adalah kolaborasi apik, antara vokal Novia Kolopaking, aransemen musik Letto dan orkesta Mata rantai, serta musik gamelan Kiai Kanjeng. Dinamika nada dan irama yang menciptakan harmonisasi dan ritme yang syahdu dan memukau. Lagu-lagu yang dipilih malam itu adalah kombinasi antara lagu nostalgia, masa kini, rohani, dan karya-karya seniman handal Jogja dan seniman asing. Penontan dibawa bersenandung bersama dalam lagu-lagu lama seperti Bunga Mawar, Asmara, dan yang tak kalah populer soundtrack 'Keluarga Cemara' karya Arswendo, yang di-aransemen gabungan dengan lagu 'Tho'la'al Badru'. Ada juga satu lagu kesukaan saya,
Sandaran Hati, dan beberapa lagu lainnya. Meskipun mengaku sempat kehabisan nafas dan tidak hafal lirik lagu, Novia tetap menampilkan performa terbaiknya. Saya salut ketika dengan rendah hati dia meminta maaf atas segala keterbatasan tersebut dan mengharapkan pengertian penonton. Termasuk, ketika konser akan dimulai Novia yang masuk melalui koridor kursi penonton, menyalami satu persatu penonton di sekelilingnya. Sesampainya di panggung, dia pun meminta izin mencopot high-heels-nya dan memilih tidak memakai alas kaki karena lebih nyaman dan membuatnya lega. Haha.

Novia tergolong sangat komunikatif dengan penonton. Sesekali memberikan pendapatnya mengenai suatu isu tanpa ada kesan menggurui namun sangat bijak dan cerdas. Mungkin karena telah terbiasa dengan berbagai dialog dan diskusi yang dipandu Cak Nun dengan berbagai kalangan, sehingga dia lebih objektif dan kritis dalam berpendapat. Novia nampaknya juga telah belajar bagaimana caranya memberikan sentuhan humor dalam setiap kata-katanya. Yang menarik, termasuk pengakuannya ketika menjadi ibu rumah tangga adalah jauh lebih 'mudah' dan menyenangkan daripada menyanyi. Dia juga menyayangkan berbagai media yang seringkali memfitnah suaminya yang dianggap menyuruhnya berhenti berkarir dan bernyanyi. Padahal, justru suaminya lah yang paling mendukung agar Novia bernyanyi terus, termasuk menggelar konser malam itu.

Saya yang malam itu hadir di antara ratusan penonton yang memadati Gedung Konser Taman Budaya merasakan atmosfer kekeluargaan yang kental; hangat dan menyenangkan. Ada semangat pengabdian besar yang selalu diingatkan dalam setiap lagu untuk tetap setia pada Ilahi, dan menapaki kehidupan sesuai dengan jalan-Nya. Seusai konser saya merasa mendapat penyegaran dan energi baru. Bahwa salah satunya, keluarga adalah harta yang paling berharga, puisi yang paling bermakna, istana yang paling indah, serta mutiara tiada tara (menyadur dari Keluarga Cemara). Keluarga kandung dalah anugerah terindah yang Allah titipkan dalam kehidupan kita. Dan dalam lingkup yang lebih luas, semangat kekeluargaan inilah yang harus selalu kita pupuk, agar kita merasakan yang namanya solidaritas, simpati-empati, dan penerimaan. Tentunya, dalam kadar yang proporsional.

Hal lain yang saya pelajari, di antaranya hidayah adalah keberuntungan terbesar yang Allah berikan kepada hambanya. Tiada yang mampu memprediksi, bagaimana kita mengawali akan sejalan dengan apa yang akan kita kerjakan nantinya. Bahagia dengan pilihan yang kita ambil serta menjalaninya dengan tanggung jawab dan kebahagiaan adalah suatu kenikmatan hidup. Berdoalah supaya kita selalu dipertemukan dengan orang atau kelompok yang bisa membuka kepekaan hati dan pikiran kita untuk menjadi insan lebih baik, tanpa harus menjadi orang lain. Hahaha. Yang jelas, saya datang tidak sia-sia. Pulang dengan tidak hanya terhibur tetapi perasaan yang lebih kaya.

Saya menunggu konser Kiai Kanjeng dan Letto, yang dijanjikan akan segera datang. Let's stay tune!

Yang juga menyayangi Jogja dan keluarga,

Kiki Fauzia

Thursday, May 26, 2011

Bare and Blue



look at sky high
the beauty, tree
bare and blue
yes,
b a r e
and
b l u e


#missingapieceofmylife

Tuesday, May 24, 2011

writing helps

writing does help. to express what's inside when we are are not sure if others would care. it's also like cassette or play-list when we can re-play it every time we need to recall old memories. writing is just so helpful to release what feels heavy or not-right. i believed that our voices deserved to be heard. and through writing, all can be such a good yet patient listener.

Friday, May 20, 2011

Manusia, ooh manusia

Manusia itu aneh, tapi nyata..
Manusia, oh manusia..
Seringkali tak habis pikir dibuatnya..


Hari ini seharusnya menjadi hari yang luar biasa. Perpaduan antara hari Jumat yang penuh berkah dan Hari Kebangkitan Nasional yang penuh semangat menggelora. Tapi hari ini, ada beberapa kejadian yang membuat saya terheran-heran oleh ulah manusia..

Pertama, ada beberapa anak manusia yang terikat dalam kehormatan suatu instutusi, tetapi belum cukup dewasa untuk memahami makna interaksi profesionalisme, dan kewajiban moral sebagai pemegang tanggung jawab.

Kedua, ada beberapa oknum anak manusia kehilangan rasa percaya, apatis, dan sinis terhadap anak manusia lain yang dianggap kurang bisa menempatkan dirinya.

Ketiga, aneh. seorang penguasa tiba-tiba menemukan suatu fakta. mencium sendiri bau busuk, entah bagaimana bisa dan dari mana hidungnya terbuka.

Keempat, ada anak manusia yang selalu merasa berkuasa. selalu memimpin dan selalu ingin menang. baginya, rasa empati memang perlu di asah lagi.

Kelima, manusia-manusia ini selalu mencari kesempatan egosentris untuk kemenangan diri.

Kelima, anak manusia yang seringkali lupa diri 'menjatuhkan' manusia lain dengan halus dan agar diiyakan, tetapi lupa mawas diri bahwa bisa jadi manusia lain itu membuat dirinya jatuh.

Manusia-manusia yang dipersatukan karena kemampuan dan kecemerlangan. serta, kesenjangan antara pendapatan dan kepuasan ekonomi. dan bagi mereka, keringat-keringat yang telah menetes itu mahal harganya.

Namanya juga manusia, tempatnya salah dan lupa.

Bisakah kita mengharapkan maklum, dan terima adanya?

Saturday, May 14, 2011

Menangis dan Belajar Ikhlas


picture from here

Halo saudara sebangsa dan setanah air..

Tadi malam saya sempat sangat sedih.
Semua terjadi begitu cepat dan sekejab. Saya yang sama sekali tidak mengharap apa-apa, tiba-tiba diberi kesempatan untuk berharap terlalu tinggi. Tinggi sekali. Saya sempat sangat yakin sekali, walau ada grogi. Saya 'mungkin' juga terlampau percaya diri, dan mendahului kehendak-Nya. Saya merasa terbang tinggi ke awan dan melayang-layang. Karena salah satu impian saya, what i wanted really really badly, is in front of my eyes. Di lain sisi, ada hal yang harus saya korbankan. Dan ada kernyit bahagia di hati bahwa ada justifikasi untuk menunda suatu keharusan yang harus segera diselesaikan itu. Hahaha.. Yang, jelas semua terjadi begitu cepat.

Tiba di hari H. Ada kesalahan kecil fatal yang saya perbuat. Soal penulisan dan kejujuran. Di situ saya belajar, bahwa "Honesty is the best policy, and being thorough is a must". Di sesi interview, saya dihadapkan pada tiga orang pewawancara. Nampaknya saya harus lebih berusaha meyakinkan diri jika dihadapkan pada sesi wawancara semacam ini. Beberapa pengalaman terdahulu merupakan pelajaran berharga agar saya lebih mengeal diri sendiri. Kemarin berbeda, dua di antara pewawancaranya saya kenal baik. Tapi saya justru merasa tidak nyaman dengan itu. Haha. Entah mengapa, saya sendiri tidak memahami. Mungkin karena ketika kita sudah kenal, ada beberapa objektifitas yang tereduksi. Entah menguntungkan atau merugikan, yang jelas saya merasa tidak nyaman. Hehe..

Dalam masa penantian, dan sebelum keputusan diketuk palu, feeling saya sangat hambar. Artinya, saya tidak berharap banyak. Dan pun ketika kenyataan terasa pahit, saya masih merasa hambar. Saya sudah legowo sejak sebelumnya bahkan. Tapi ketika diberikan penjelasan mengenai kronologis dan alasan, saya justru sedikit mengernyitkan dahi, "is it fair?". Well, then I guess, banyak pertimbangan, dan mereka mempunyai otoritas untuk memilih dan mempertimbangkan. Justru yang pahit adalah di balik penjelasan itu. Kalauupun benar, seharusnya saya tidak usah tahu saja. Siapa tahu itu hanya 'penjelasan manis' untuk menenangkan dan menghilangkan 'rasa kecewa' dan 'malu' saya. Hanya Allah yang Maha Tahu bagaimana keputusan di buat. Dalam hati saya berdialektika dengan topik
"mengapa Anda layak untuk benar-benar diperjuangkan" Dan kesimpulan saya, ketika Anda memang tidak layak, pertimbangan lain-lain itu hanyalah faktor sekunder.

Akhirnya pelukan sang Ibu itu begitu menenangkan. Saya pun berusaha ikhlas, walaupun masih ada sedih dalam hati. Saya ingin segera pulang dan menceritakan semua kepada keluarga saya. Seperti biasa mereka menangkan. Saya ke kamar dan kemudian lahirlah entry blog saya sebelum ini. Entah, saya merasa harusnya saya bisa menangis di dalam kamar. Tetapi tetap saja belum bisa. Saya pun memaksa diri untuk menangis. Haha. Dan saya bangga air mata itu bisa keluar. Mengapa harus berusaha dan bangga? Karena saya tergolong anak yang jarang menangis. Entah, mungkin bisa disebabkan oleh beberapa hal: mungkin kurang sensitif, kurang sentimentil, hati kelu, atau positifnya, saya memang kuat, tidak cengeng, dan memang tidak perlu. Yang jelas, saya pernah berdoa supaya Allah memberikah hati yang lebih sensitif dan 'sensible'. Tapi dalam beberapa kejadian, tangisan saya selalu terlambat, memang. Dan akhirnya, saya senang bisa menangis malam itu. Lega.

Sayapun memejamkan mata. Hari pun berganti. Pagi ini saya bertemu teman-teman seangkatan untuk berfoto bersama. OMG, it's been four years. Can I record what I have done during the past years? Kemudian saya berfikir dan mulai menyadari, kuncinya adalah tahu tujuan hidup dan ikhlas. Dua hal itu lah yang penting.
Karena ketika kita tahu apa tujuan akhir hidup kita, dan ikhlas dalam menjalaninya, pasti tak ada sedikit pun yang bakal kita sesali. Tak ada pekerjaan dan perbuatan kita yang sia-sia, kecuali kita sendiri yang membuatnya sia-sia. Kesedihan dan perasaan apa pun sifatnya hanya sementara. Saya pun menguat kembali, mengikhlaskan semuanya lagi. Dan mengingat kembali tentang apa tujuan akhir hidup saya. And at the end, I realize that I should have faith in God. Because He is indeed the Best Life Director!

Saya beriman, oleh karenanya saya kuat! Belajar ilmu ikhlas memang tidak mudah.

Salam ikhlas, dan tetap semangat!

Kiki Fauzia


So Very Much Sad

Ya Allaaaaaah,

Berikanlah aku samudra air mata malam ini :((
Tapi, aku ini hamba-Mu yang beriman, jadi kuatkan aku dengan kasih-Mu!


*Blogger.com why did you sudden me by being error, and dismiss my previous entry about " A Cup of Complicated Heart"? Oh one thing, I wanna ask you about this : Mengapa kita benar-benar layak diperjuangkan? I hope my previous post is really worth-maintained.