Wednesday, May 12, 2010

Mengaji atau Merugi

"Ngaji, Nduuk! Walau ayah! Niat ingsun dipekso. Memang harus dipaksakan untuk memulai."

Sudah berkali-kali nasehat di atas singgah di kuping kananku. Rehat sejenak di otak. Kemudian, berlanjut keluar lewat kuping kiriku. Selalu begitu. Orang tua selalu mengingatkan jika aku mulai menceritakan aktivitasku, termasuk penyakit malas yang menghinggapi jasmani dan rohaniku, diantaranya misalnya ketika aku malas mengaji. Namun ketika aku tidak bercerita, asumsi mereka (mungkin) sudah tidak ada masalah alias aku sudah rutin mengaji. Kemudian aku mencoba mengingat kembali, kapan terakhir aku membuka Al-Quran? Seminggu yang lalu sepertinya. Baguslah, pikirku, tidak terlalu parah. Tapi, apakah demikian?

Persinggungan antara celah peristiwa dan lalu lintas suara hati mengantarku pada bisikan halus dalam kalbu yang nyaris tidak terdengar, kecuali jika aku diam, hening, dan memberi ruang pada desir itu. Desiran itu adalah pertanyaan tentang : "Apakah kita termasuk orang-orang yang merugi?"

Tafsiran merugi memang sangat luas. Jika tinjauannya adalah Surat Al-Asr, maka indikator kerugian adalah waktu (masa). Dan memang, waktu adalah variabel yang paling bisa mendeterminasi apakah manusia tergolong orang yang beruntung, merugi, atau celaka. Coba simak saja pesan dalam ayat (Al Asr) di bawah ini:
1) Demi masa
2) Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian
3) Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran)

Sungguh luar biasa ayat tersebut mengingatkan manusia supaya tidak menyia-nyiakan waktu, menjadi sebaik-baik manusia, bermanfaat bagi orang lain, dan tidak merugi.

Lalu apa hubungan antara membaca Al-Quran dengan orang yang merugi? Jelas ada. Mengaji dan mengkaji Al-Quran bisa menghindarkan kita menjadi manusia yang merugi. Aku juga teringat pesan keluarga waktu itu, terutama berkaitan dengan pengaruh faktor lingkungan dan peluang menjadi manusia yang merugi. Waktu itu mereka mengingatkan bahwa aku harus selalu meng-upgrade kualitas ibadah. Tidak bisa disejajarkan dengan orang lain. Bahkan, jangan sampai menurun sesuai dengan standar orang lain

Misalnya saja, ketika aku sudah rutin shalat lima waktu, aku harus mengusahakan shalat tepat waktu. Ketika aku sudah rutin shalat tepat waktu, aku harus mengusahakan shalat sunnah lain. Ketika aku sudah terbiasa mengaji, hari berikutnya aku harus istiqomah dan memperbanyak ayatnya. Singkatnya, kita harus membiasakan diri memperbaiki kualitas ibadah. Jangan sampai terbawa arus dan pengaruh lingkungan. Misalnya, terbawa kebiasaan shalat ngaret atau bahkan lalai sholat. Semua itu dimaksudkan supaya kita tidak menjadi manusia merugi.

Sesungguhnya formulasinya adalah:
"hari ini lebih baik dari hari kemarin = beruntung
hari ini sama dengan hari kemarin = merugi
hari ini lebih buruk dari hari kemarin = celaka"

Semoga kita tergolong orang-orang yang beruntung. Upgrading diri memang perlu dilakukan setiap hari.

Salam, _Kf_

2 comments:

primahasmi said...

waa...kiki...bener2..
like this pokoknya :D

Kiki Fauzia said...

makasih luliii...
mari kita sama2 berdoa semoga menjadi orang yag beruntung. amiiin:)